PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk tengah mengalami kesulitan keuangan imbas berbagai masalah dan dampak pandemi Covid-19. Utang perseroan hingga kini terus menumpuk mencapai Rp 70 triliun, dan diperkirakan terus bertambah Rp 1 triliun tiap bulannya. Mengakali situasi tersebut, pihak manajemen bekerja keras memutar otak untuk menyehatkan kondisi finansial Garuda Indonesia. Beragam cara dilakukan, salah satunya dengan menyebar tiket promo pesawat guna mengatasi minimnya okupansi selama periode pandemi ini.

Selain itu, cara lain yang dilakukan adalah dengan menawarkan pensiun dini. Direktur Utama PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk, Irfan Setiaputra mengungkapkan, alasan manajemen menawarankan pensiun dini kepada para karyawannya termasuk juga pilot. Hal ini dikarenakan manajemen berkeinginan untuk fokus dan memaksimalkan upaya dalam upaya pemulihan kinerja serta berbagai program strategis yang tengah dijalankan perusahaan.

“Kondisi Garuda Indonesia saat ini semakin memprihatinkan, berbagai upaya telah dilakukan untuk menjaga agar Garuda Indonesia ini tetap dapat terbang di tengah terpaan badai pandemi yang belum kunjung berakhir,” kata Muzaeni dalam B-Talk Sang Garuda Tersungkur Digulung Turbulensi, Selasa (25/5).

Sehingga pada akhirnya manajemen menawarkan kepada karyawan dan pilotnya untuk mempercepat pensiun atau pensiun dini. Menurutnya, penawaran ini sesuai dengan aturan yang ada Perjanjian Kerja Bersama atau yang dikenal dengan istilah PKB. Perseroan menawarkan program pensiun dini untuk para karyawannya hingga 19 Juni 2021. Langkah ini dijalankan demi menyelamatkan keuangan perusahaan yang tertekan akibat rugi dan utang.

 

Baca juga: Analisis Garuda Indonesia Disuntik Pinjaman Rp1 Triliun Apa Dampaknya?

 

Namun, Menteri BUMN Erick Thohir mengatakan, ia akan mempertahankan ribuan karyawan  agar tetap berada di perusahaan maskapai pelat merah tersebut.

“Dari hasil laporan yang saya dapatkan bahwa kami tetap mempertahankan 1.300 pilot dan awak kabin, serta 2.300 pegawai,” kata Erick dikutip dari Antara, Rabu (2/6/2021).

Dia menjelaskan, pandemi COVID-19 telah memukul industri penerbangan di seluruh dunia, bahkan ada maskapai asing yang lebih parah ketimbang Garuda Indonesia. Menurutnya, pemerintah saat ini perlu mencari cara agar perusahaan pelat merah itu bisa bertahan menghadapi tekanan kondisi keuangan yang minus.

Perseroan terus mengupayakan berbagai hal untuk efisiensi. Bahkan baru-baru ini mencuat gagasan untuk pemangkasan dewan komisaris Garuda Indonesia.

Ekonom Senior, Piter Abdullah menilai keputusan tersebut layak untuk dilakukan sebagai langkah efisiensi Perseroan. Dia menuturkan, Garuda Indonesia kian memburuk dan sulit untuk bertahan.

“Kondisi Garuda sudah sangat buruk. Cash flows tidak mencukupi. Lebih besar pengeluaran daripada pemasukan. Satu-satunya jalan adalah melakukan efisiensi, mengurangi pengeluaran,” kata dia kepada Liputan6.com, ditulis Jumat, (4/6/2021).

Piter menambahkan, salah satu yang paling cepat bisa dilakukan adalah mengurangi pegawai. Termasuk dalam opsi ini mengurangi anggota direksi dan komisaris.

“Jadi dengan langkah rasionalisasi jumlah SDM ini akan membantu cash flows Garuda. Mengurangi defisit,” ia menambahkan.

Erick Thohir mengatakan Garuda Indonesia akan berfokus kepada bisnis penerbangan domestik dalam negeri dengan melayani perjalanan masyarakat antarpulau di Tanah Air. Aksi yang dilakukan pemerintah ini merupakan upaya untuk menyelamatkan Garuda Indonesia dari masalah finansial akibat utang dan kerugian yang dialami perseroan.

Berdasarkan laporan keuangan yang disampaikan ke Bursa Efek Indonesia (BEI), PT Garuda Indonesia Tbk mencatat pendapatan usaha USD 1,13 miliar hingga kuartal III 2020. Realisasi pendapatan itu turun 67,83 persen dari periode sama tahun sebelumnya USD 3,54 miliar. Perseroan alami rugi yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar USD 1,07 miliar hingga kuartal III 2020 dari periode sama tahun sebelumnya laba USD 122,42 juta.

 

Baca juga: Garuda Indonesia Mendapat Pinjaman Jangka Pendek Sebesar Rp74 Triliun

Tags: