Wall street melemah pada perdagangan Rabu, 17  Agustus 2022. Reli yang telah mendorong harga lebih tinggi sejak Juni tampak kehilangan tenaga.

Di sisi lain, pelaku pasar juga menilai data ritel terbaru dan risalah dari the Federal Reserve (the Fed) atau bank sentral AS.

Pada penutupan perdagangan wall street, indeks Dow Jones melemah 171,69 poin atau 0,5 persen ke posisi 33.980,32. Indeks S&P 500 susut 0,72 persen menjadi 4.274,04. Indeks Nasdaq tergelincir 1,25 persen menjadi 12.938,12.

Indeks Dow Jones menghentikan kenaikan beruntun dalam lima hari tetapi menyelesaikan sesi mingguan yang sedikit positif hingga kini. Indeks S&P 500 dan Nasdaq masing-masing tergelincir 0,14 dan 0,84 persen sejak awal pekan.

Saham bergejolak karena pelaku pasar menilai risalah pertemuan the Fed terbaru menunjukkan bank sentral akan melanjutkan kenaikan agresif hingga dapat meredam inflasi.

Pada saat yang sama, the Fed juga mengindikasikan dapat segera memperlambat kecepatan pengetatannya, sementara juga mengakui keadaan ekonomi dan risiko penurunan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB).

“Peserta menilai ketika sikap kebijakan moneter semakin diperketat, kemungkinan akan menjadi tepat di beberapa titik untuk memperlambat laju kenaikan suku bunga sambil menilai efek penyesuaian kebijakan kumulatif pada kegiatan ekonomi dan inflasi,” kata risalah tersebut dilansir dari CNBC,  Kamis (18/8/2022).

Baca juga: Nilai Tukar Dolar Australia Turun 3 Hari Beruntun

Sementara itu, pelaku pasar juga terus menyisir laba korporasi dari sektor ritel. Saham Target tergelincir 2,6 persen setelah membukukan laba jauh dari harapan karena bergulat dengan kelebihan persediaan. Lowe mengakhiri sedikit lebih tinggi meskipun kuartal beragam.

Data penjualan ritel yang dirilis Rabu mendatar pada Juli, meskipun konsumen memang meningkatkan belanja online.

“Tidak mengherankan melihat pasar mengambil nafas dari reli musim panas yang sedang berlangsung,” ujar Direktur Pelaksana E-Trade Financial, Chris Larkin.

Ia menambahkan, pasar mencari tanda-tanda perlambatan kenaikan suku bunga yang tampaknya telah memicu kenaikan baru-baru ini akan datang. “Investor harus tetap gesit dan terus mengharapkan volatilitas karena kita mungkin belum keluar dari masalah,” kata dia.

Di sisi lain, imbal hasil obligasi juga naik dengan obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun naik 7 basis poin (bps) menjadi 2,9 persen karena kekhawatiran resesi dan ketidakpastian mengenai jalur kenaikan suku bunga the Fed terus berlanjut. Langkah ini menyeret saham-saham pertumbuhan seperti teknologi.

 

Sumber

Baca juga: Kapan Bursa Kripto Indonesia Dibuka? Yuk Intip Bocorannya!