Kurs dolar Singapura jeblok 3 hari beruntun melawan rupiah, sebelum berbalik menguat pada perdagangan Selasa (16/8/2022). Pada pukul 12:17 WIB, dolar Singapura diperdagangkan di kisaran Rp 10.701/SG$, menguat 0,14% di pasar spot, melansir data Refinitiv.

Dolar Singapura tertekan setelah rilis data pertumbuhan ekonomi yang lebih rendah dari ekspektasi.

Pada Kamis (11/8/2022), Kementerian Industri dan Perdagangan (MIT) Singapura melaporkan PDB kuartal II-2022 tumbuh 4,4% (year-on-year/yoy), lebih rendah dari estimasi pemerintahnya sebesar 4,8% (yoy).

Jika dilihat secara kuartalan, PDB bahkan berkontraksi 0,2%. Kontraksi tersebut terjadi akibat tekanan eksternal.

“Risiko penurunan ekonomi global masih signifikan, ekskalasi konflik Rusia-Ukraina lebih lanjut dapat memperburuk disrupsi supply, dan mengakselerasi tekanan inflasi melalui harga makanan dan energi,” kata Gabriel Lim, Menteri MIT, sebagaimana dilansir Reuters.

Dengan rilis tersebut, proyeksi PDB sepanjang tahun 2022 juga dipangkas menjadi 3% – 4%, dari sebelumnya 3% – 5%.

Baca juga: 5 Dampak Kenaikan Kurs Dolar AS, Apa Saja?

Sementara itu rupiah tertekan akibat isu kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) Pertalite. Jika harga Pertalite dinaikkan, maka inflasi di Indonesia kemungkinan akan melesat. Semakin tinggi inflasi, maka nilai tukar mata uang semakin tergerus. Rupiah pun tertekan.

Sinyal kenaikan harga Pertalite memang semakin kuat. Bila sebelumnya muncul dari Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia, kini sinyal tersebut disampaikan oleh Ketua Badan Anggaran Said Abdullah.

“Tidak akan ada penambahan subsidi. Pilihan yang bisa ditempuh pemerintah adalah menaikkan harga energi yang disubsidi dengan mempertimbangkan dampak inflasi dan daya beli rumah tangga miskin,” ungkapnya kepada CNBC Indonesia, Senin (15/8/2022).

Kenaikan tidak hanya akan terjadi pada jenis Pertalite, melainkan juga LPG 3 kg dan listrik pada daya tertentu.

“Sesegera mungkin Pemerintah menaikkan harga pertalite, LPG 3 Kg, dan listrik bersubsidi karena kalau tidak disegerakan akan makin menggerus kuota pasokan energi subsidi. Apalagi terjadi gap harga yang jauh antara pertalite dengan pertamax,” paparnya.

 

Sumber

Baca juga: Nilai Tukar Dolar Australia Turun 3 Hari Beruntun