Pergerakan Harga Bitcoin dan Kripto Lainnya Masih Melemah~?

Harga mayoritas kripto utama cenderung melemah pada perdagangan Selasa (16/8/2022), di mana investor cenderung memasang mode wait and see pada hari ini.

Melansir data dari CoinMarketCap pada pukul 09:05 WIB, Bitcoin merosot 2,07% ke harga US$ 24.129,74/koin atau setara dengan Rp 356.637.557/koin (asumsi kurs Rp 14.780/US$). Sedangkan Ethereum ambles 3,58% ke posisi US$ 1.900,73/koin atau Rp 28.092.789/koin.

Sedangkan untuk koin digital (token) alternatif (alternate coin/altcoin) Cardano terkoreksi 2,51% ke US$ 0,5605/koin (Rp 8.284/koin) dan Solana ambrol 4,31% ke US$ 43,72/koin (Rp 646.182/koin).

Bitcoin kembali ke kisaran harga US$ 24.000, setelah sempat menyentuh kisaran US$ 25.000 pada Senin pagi waktu Indonesia.

Investor cenderung memasang mode wait and see, setelah berminggu-minggu indikator ekonomi dan pendapatan perusahaan yang terkadang penuh harapan serta terkadang membingungkan.

“Tampaknya kripto seperti banyak instrumen lainnya, yang sedang menguji penghalang yang menyusul pemulihan baru-baru ini dan kita mungkin melihat beberapa investor dan trader melakukan aksi ambil untung,” kata Craig Erlam, analis pasar senior valuta asing Oanda, dikutip dari CoinDesk.

Investor merespons sedikit dari kabar bank sentral China (People Bank of China/PBoC) yang secara tak terduga memangkas suku bunga utama untuk kedua kalinya tahun ini.

Baca juga: Harga Token Shiba Inu Naik 34%, Apa Pendorongnya?

Pemangkasan ini dikhawatirkan sebagai sinyal jika perlambatan ekonomi China masih akan terjadi ke depan. Meski begitu, pelaku pasar di Benua Kuning dan Benua Hijau tidak terlalu mengkhawatirkannya.

Meski begitu, sejatinya mereka masih cenderung optimis setelah data ekonomi menunjukkan bahwa tekanan inflasi dapat sedikit mereda.

Pasar juga masih optimis jika kenaikan suku bunga bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) tidak akan membuat ekonomi AS mengalami hard landing.

Seperti diketahui, The Fed telah menaikkan suku bunga acuan mereka sebanyak 225 basis poin (bp) sepanjang tahun ini hingga menjadi di kisaran 2,25 persen-2,5 persen untuk menurunkan inflasi.

Kenaikan suku bunga acuan yang agresif semula dikhawatirkan akan membuat ekonomi AS jatuh sangat dalam. Secara teknikal, ekonomi AS juga sudah memasuki resesi setelah terkontraksi pada kuartal I dan kuartal II-2022.

Kenaikan suku bunga pada periode Maret-Juli telah menekan pasar saham dan pasar kripto.

Namun, optimisme pelaku pasar mulai meningkat tajam pekan lalu setelah keluarnya data inflasi dari sisi produsen (producer price index/PPI) dan dari sisi konsumen (Indeks Harga Konsumen/IHK) pada Juli 2022.

PPI Negeri Paman Sam pada bulan lalu menunjukkan penurunan secara bulanan sebanyak 0,5% dan melampaui ekspektasi analis Dow Jones di 0,2%.

Sedangkan, IHK Negeri Paman Sam pada bulan lalu juga melandai ke 8,5% secara tahunan (year-on-year/yoy) dari 9,1% dan berada di bawah prediksi analis Dow Jones di 8,7%.

Membaiknya data IHK dan PPI AS memberi optimisme pasar jika periode terburuk sudah berlalu.

“Puncak inflasi sudah berlalu dan The Fed tidak akan menaikkan suku bunga acuan setelah ini. Ekonomi AS akan membaik,” tutur Michael James, direktur pelaksana perdagangan ekuitas di Wedbush Securities, kepada Reuters.

 

Sumber

Baca juga: Harga Bitcoin Hari Ini Bergerak Naik, Kepoin di Sini!

Tags: