Rupiah melemah lagi melawan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (29/9). Hal ini menunjukkan dolar AS yang masih terlalu kuat, dan risiko pelemahan berlanjutnya pelemahan rupiah pun masih besar.

Melansir data Refintiv, begitu perdagangan dibuka rupiah langsung menguat 0,39% ke Rp 15.200/US$. Setelahnya penguatan terus terpangkas, hingga berbalik melemah 0,1% ke Rp 15.275/US$.

Di penutupan perdagangan, rupiah berakhir di Rp 15.260/US$ sama persis dengan posisi akhir Rabu kemarin.

Penguatan dolar AS diperkirakan masih akan belum berakhir, atau belum mencapai puncaknya. Sehingga risiko pelemahan rupiah masih cukup besar.

“Dolar AS yang menyandang status safe haven akan terus menarik minat pelaku pasar, akibat ketakutan resesi global yang semakin besar dalam beberapa bulan ke depan. Dalam pandangan kami, indeks dolar AS akan mencapai puncaknya di 115 pada semester pertama 2023,” kata ekonom ANZ Bank, sebagaimana dilansir FX Street, Rabu (28/9/2022).

Indeks dolar AS saat ini berada di kisaran 113,43 setelah sempat menyentuh 114 di pekan ini.

Baca juga: Ini Dia Penyebab Rupiah Anjlok, Simak Penjelasan BI

Dolar AS yang menyandang status safe haven memang menjadi primadona saat isu resesi dunia semakin menguat. Apalagi dengan The Fed yang berencana terus menaikkan suku bunga hingga tahun depan.

Istilah cash is the king, kembali mengemuka di dalam negeri. Kali ini justru datang dari otoritas moneter, Bank Indonesia (BI).

Dalam beberapa tahun terakhir, istilah cash is the king muncul beberapa kali. Yang terdekat, saat awal pandemi penyakit akibat virus corona (Covid-19).

Kali ini, istilah cash is the king dilontarkan langsung oleh Deputi Gubernur BI Aida S Budiman.

“Kita kenal istilah higher for longer (untuk suku bunga di berbagai negara) yang menimbulkan ketidakpastian global dan pasar keuangan, diikuti Eropa. Sehingga mata uang dolar AS mengalami peningkatan tertinggi dalam sejarahnya dan mengalami tekanan cash is the king,” jelas Aida dalam Diskusi Publik Memperkuat Sinergi untuk Menjaga Stabilitas Perekonomian, Rabu (28/9).

Istilah tersebut merujuk pada fenomena di mana para pelaku pasar lebih memilih memegang cash. Tetapi bukan sembarangan cash, hanya dolar AS.

 

Sumber

Baca juga: Nilai Tukar Yuan China Anjlok, Sentuh Level Terendah 14 Tahun

Tags: