Pemerintah Indonesia kini tengah bekerja untuk mengatur pinjaman jangka pendek sebesar $ 500 juta atau sekitar Rp7,4 triliun untuk Garuda Indonesia. Maskapai ini berusaha merestrukturisasi obligasi syariah yang akan jatuh tempo bulan depan.

Garuda Indonesia yang merupakan milik BUMN, mengatakan pandemi virus corona telah menciptakan “lingkungan bisnis yang sangat menantang”. Saat ini negara memberlakukan pembatasan perjalanan untuk menahan penyebaran virus. Garuda Indonesia udah mendapatkan pinjaman dari pemberi pinjaman negara, Bank Rakyat Indonesia (BRI).

Opsi Sukuk Garuda Indonesia

Maskapai ini akan menghadirkan opsi kepada investor dalam pembicaraan mengenai restrukturisasi sukuk, sebuah produk investasi syariah, sebesar $ 500 juta. Juga termasuk apakah akan memperpanjang jangka waktu tiga hingga lima tahun, menurut pernyataan dari Kartika Wirjoatmodjo, Wakil Menteri  BUMN.

“(Mengenai) sukuk $ 500 juta, kami akan bernegosiasi untuk perpanjangan. Satu lagi fasilitas jangka pendek baru senilai $ 500 juta sedang dikerjakan, ” ungkap Wirjoatmodjo, dilansir dalam artikel reuters.

Pada hari Senin kemarin dilaporkan bahwa terdapat opsi lain yang akan ditawarkan Garuda kepada pemegang obligasi staggered repayment, dalam proposal akan diajukan kepada investor pada 18 Mei. Wirjoatmodjo juga turut menjelaskan pinjaman jangka pendek dimaksudkan untuk membantu maskapai memenuhi kebutuhan modal kerja selama tiga hingga enam bulan.

Irfan Setiaputra, kepala eksekutif Garuda, mengatakan kepada Reuters melalui pesan singkat bahwa tidak ada yang diputuskan dalam hal opsi untuk restrukturisasi.

Dia mengatakan pinjaman jangka pendek belum dipastikan. Namun ia menegaskan Garuda sedang dalam pembicaraan untuk mendapatkan lebih banyak pinjaman bank, selain fasilitas baru-baru ini yang diberikan oleh Bank Rakyat Indonesia.

Baca juga: Investor Tiongkok dan AS Berunding, Saham Wilayah Asia Melonjak

Pendapatan Kuartal Pertama 2020 Turun 33%

Perwakilan Garuda Indonesia mengungkapkan, Bank Rakyat Indonesia, telah menyetujui pinjaman $ 50 juta dan 2 triliun rupiah ($ 134,68 juta). Di tambah juha surat kredit siaga $ 200 juta untuk Garuda dan anak perusahaannya Citilink. Dana tersebut digunakan untuk  membeli bahan bakar, membayar sewa pesawat dan biaya operasional lainnya.

Garuda, yang lebih dari 60% dimiliki oleh negara, memulai kembali penerbangan domestik pada hari Kamis lalu. Sebelumnya pihak berwenang mengurangi larangan perjalanan udara dan laut. Bulan lalu, dalam sebuah pernyataan di bursa saham, Garuda mengatakan pendapatan operasional kuartal pertama turun 33% dari kuartal yang sama tahun sebelumnya, karena penurunan jumlah penumpang dan penurunan harga tiket.

 

Tags: