Wall Street Koreksi Dampak Kenaikan Suku Bunga

Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street membukukan koreksi dalam tiga hari berturut-turut pada perdagangan Kamis, 22 September. Tekanan terhadap wall street seiring meningkatnya kekhawatiran kenaikan suku bunga agresif oleh bank sentral AS atau the Federal Reserve (the Fed)  akan mendorong ekonomi ke dalam resesi.

Pada penutupan perdagangan wall street, indeks S&P 500 tergelincir 0,8 persen ke posisi 3.757,99. Indeks Nasdaq susut 1,4 persen menjadi 11.066,81. Indeks Dow Jones merosot 107,10 poin atau 0,3 persen ke posisi 30.076,68.

Pada perdagangan Kamis pekan ini, indeks acuan yang koreksi mendorong penurunan mingguan. Indeks Dow Jones turun sekitar 2,42 persen hingga kini. Indeks S&P 500 dan Nasdaq masing-masing turun 3 persen dan 3,3 persen.

Di sisi lain, imbal hasil obligasi melonjak pada perdagangan Kamis pekan ini. Imbal hasil obligasi AS bertenor 10 tahun dan dua tahun mencetak posisi tertinggi. Imbal hasil tersebut mencapai level tertingg masing-masing sejak Februari 2011 dan Oktober 2007.

Baca juga: Wall Street Anjlok Setelah Inflasi Sentuh Level Tertinggi Sejak 1981

Pergerakan pada perdagangan Kamis pekan ini juga terjadi setelah bank sentral AS mempertahankan sikap agresifnya pada Rabu pekan ini.

The Fed menerapkan kenaikan suku bunga acuan 75 basis poin dan prediksi membawa suku bunga 4,4 persen pada akhir 2022. Bank sentral lainnya di seluruh dunia juga mengikuti langkah the Fed menerapkan kenaikan suku bunga meski ada dampak potensial bagi ekonomi.

Saham teknologi dan semikonduktor yang berorientasi pada pertumbuhan cenderung tertekan pada Kamis pekan ini. Hal itu seiring kekhawatiran perlambatan pertumbuhan ekonomi. Sektor saham industri dan konsumsi mencatat kinerja buruk di sektor S&P 500. Sektor saham industri dan konsumsi masing-masing merosot 1,7 persen dan 2,2 persen.

“The Fed membuka jalan jalan bagi bank sentral di dunia lainnya untuk menaikkan suku bunga, dan itu akan menyebabkan resesi global, dan seberapa parah itu akan ditentukan pada berapa lama inflasi turun,” ujar Analis Oanda, Ed Moya seperti dikutip dari CNBC, Jumat (23/9/2022).

Sementara itu, saham defensif lainnya membukukan kinerja lebih baik yang didukung saham produsen obat dan bahan pokok konsumen. Saham Eli Lily naik 4,9 persen setelah UBS menaikkan rekomendasi peringkat saham.

 

Sumber

Baca juga: Prediksi Inflasi: Tembus 6% Tahun Ini