Dalam investasi saham, banyak istilah-istilah baru yang mungkin jarang didengar di kehidupan pada umumnya. Pernyataan ini sangat relevan terutama terhadap pihak-pihak yang baru saja memulai perjalanan investasinya.

Oleh karena itu, investor baru perlu mendekatkan diri kepada pasar saham yang salah satunya adalah melalui pemahaman terhadap istilah-istilah ini. Salah satu istilah yang umumnya jarang didengar oleh investor saham baru adalah stock split akibat jarangnya didengar di kehidupan pada umumnya jika jauh dari dunia keuangan.

Apa Arti dari Istilah Stock Split?

Stock split sendiri adalah sebuah istilah yang umumnya digunakan dalam pasar saham yang mengindikasikan perubahan dalam jumlah saham yang beredar. Umumnya di Indonesia, saham yang melakukan stock split adalah saham yang sudah terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Perubahan jumlah saham tersebut dilakukan dengan pemecahan nominal saham yang juga merubah harga saham tersebut.

Tujuan dari stock split ini sendiri adalah untuk beberapa hal, yang paling umumnya adalah untuk menambah jumlah saham yang beredar. Dengan menambah jumlah saham yang beredar, mekanisme permintaan dan penawaran pasar akan bergerak lebih lanjut dan akan sangat bermanfaat bagi saham yang stagnan. Sehingga, tujuan dari stock split ini juga adalah untuk menjaga tingkat likuiditas dari saham tersebut.

Stock split sendiri umumnya terjadi saat harga saham sudah terlalu tinggi. Hal ini membuat investor kesulitan untuk membeli saham dan mekanisme pasar tidak berjalan dengan lancar, sehingga umumnya saham mudah dimanipulasi atau bahkan stagnan. Sehingga, secara tidak langsung, stock split ini menambah ketertarikan investor terhadap suatu saham. Hal ini menguntungkan bagi perusahaan karena berarti lebih banyak ketertarikan terhadap sahamnya, yang berarti lebih banyak modal.

Bagaimana Mekanisme Stock Split?

Stock split sendiri pada umumnya dilakukan dengan menggunakan rasio yang menandakan berapa jumlah perubahan kepemilikan saham yang akan dimiliki investor. Rasio ini menjadi panduan untuk perusahaan memecahkan jumlah saham yang ada saat ini menjadi jumlah yang lebih banyak. Umumnya rasio ini tidak hanya berdampak pada jumlah saham beredar berikutnya tapi juga pada harga saham setelah stock split.

Sebagai contoh, rasio stock split yang paling umum adalah 2:1, 3:1, 4:1, atau 5:1. Namun penetapan tidak terbatas pada rasio tersebut karena juga memungkinkan adanya rasio seperti 3:2 atau 5:3. Maksud dari rasio ini adalah perubahan jumlah kepemilikan, contohnya rasio 5:1 seperti yang dilakukan oleh saham UNVR. Perubahan tersebut berarti setiap 1 saham yang dimiliki sebelumnya, setelah stock split, kepemilikan 1 saham tersebut berubah menjadi 5 saham.

Baca juga: Garuda Indonesia Disuntik Pinjaman Rp 1 Triliun! Apa Dampaknya?

Setelah stock split, seperti yang sebelumnya dinyatakan, yang berubah bukan hanya jumlah, karena hal tersebut akan membuat mekanisme pasar rusak. Oleh karena itu, akan terjadi juga perubahan dalam harga yang menggunakan rasio yang sama. Contohnya adalah saham UNVR yang sebelumnya memiliki harga sebesar Rp 42.000 sebelum stock split, berubah menjadi Rp 8.400 akibat rasio 5:1. Harga baru tersebut berasalah dari rumus Harga Baru = Harga lama : Rasio atau Rp 8.400 = Rp 42.000 : 5:1.

Dari penjelasan tersebut dapat dinyatakan bahwa stock split ini adalah cara untuk merubah jumlah dan harga untuk memperbaiki mekanisme pasar. Sehingga, istilah ini patut diketahui oleh seluruh investor akibat dampaknya terhadap pasar dan investor yang juga dapat menguntungkan investor. Oleh karena itu, kedepannya investor wajib memahami istilah-istilah lainnya yang salah satunya juga adalah stock split dan lawannya yaitu reverse stock split yang kemungkinan akan dibahas dalam artikel lainnya.

Tags: