Rupiah berhasil menguat di hadapan dolar Amerika Serikat (AS) hingga di pertengahan perdagangan Kamis (11/8/2022), setelah rilis data inflasi AS yang melandai.

Mengacu pada data Refinitiv, rupiah terapresiasi pada pembukaan perdagangan sebanyak 0,4% di Rp 14.810/US$. Kemudian, rupiah kembali menguat tajam 0,55% menjadi Rp 14.788/US$ pada pukul 11:00 WIB.

Penguatan Rupiah terjadi setelah rilis inflasi AS pada Rabu (10/8) yang melandai ke 8,5% secara tahunan dari 9,1% yoy karena harga bahan bakar menurun tajam. Secara bulanan, inflasi stagnan atau tidak berubah.

Angka inflasi tersebut berada di bawah proyeksi analis Dow Jones di 8,7% yoy dan 0,2% mtm.

Hal tersebut membuat dolar AS tertekan hebat, hingga berakhir ambles 1,02% ke posisi 105,26 pada Rabu (10/8). Kemudian pada perdagangan hari ini pukul 11:00 WIB, dolar AS bergerak menguat meski tipis 0,17% ke 105,37. Kini, dolar AS diperdagangkan di level 105 turun dari level sebelumnya di 106.

Terkoreksinya dolar AS di pasar spot disebabkan oleh membaiknya sentimen investor yang tercermin dari melesatnya bursa saham di Wall Street setelah rilis data inflasi AS yang melandai.

Sebelumnya, potensi resesi global terus membayangi, sehingga permintaan akan mata uang safe heaven tersebut meningkat dan akhirnya membuat dolar AS perkasa. Namun, ketika inflasi AS mulai menurun, sentimen para pelaku pasar pun membaik dan menekan si greenback.

Baca juga: Jelang Rilis Data Inflasi, Indeks Dolar AS Turun Tipis

Jika mengacu pada alat ukur FedWatch, analis memprediksikan bahwa melambatnya inflasi telah membuka pintu bagi bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) untuk memperlambat laju kenaikan suku bunga menjadi 50 basis poin (bps) dari 75 bps pada pertemuan selanjutnya.

Namun, para pejabat Fed mengindikasikan hal yang berbeda. Presiden Fed Minneapolis Neel Kashkari mengatakan bahwa dia belum melihat apa pun yang mengubah kebutuhan untuk menaikkan suku bunga menjadi 3,9% di akhir tahun ini dan 4,4% di 2023 dari tingkat suku bunga Fed saat ini di 2,25%-2,5%.

Senada, Presiden Fed Chicago Charles Evans menyebut inflasi masih tinggi dan masih membutuhkan kenaikan suku bunga hingga ke 3,25%-3,5% tahun ini dan menjadi 3,75%-4% pada akhir 2023.

Sementara Kepala Ekonom Capital Management Karim Basta menilai bahwa The Fed masih membutuhkan banyak bukti bahwa inflasi benar-benar turun. Inflasi AS per Agustus dijadwalkan akan dirilis pada 13 September atau seminggu sebelum pertemuan Fed di 21-22 September 2022, sehingga para pelaku pasar perlu mencermati rilis data tersebut.

Kombinasi dari sentimen yang kian membaik di pasar global dan terkoreksinya dolar AS dapat menjadi momentum penguatan rupiah hari ini.

Bahkan, di Asia, Rupiah berhasil menduduki juara pertama karena menguat tajam di hadapan dolar AS. Di susul oleh ringgit Malaysia yang terapresiasi 0,22% dan baht Thailand menguat 0,08% terhadap dolar AS. Sementara sisanya, terkoreksi terhadap si greenback.

 

Sumber

Baca juga: Bursa Asia-Pasifik Menghijau Setelah Rilis Data Inflasi AS!

 

Tags: