Bursa Asia-Pasifik menghijau pada awal perdagangan Kamis (11/8) setelah dirilisnya data inflasi AS yang lebih baik dari ekspektasi pasar.

Indeks Hang Seng Hong Kong dibuka melonjak 1,24%. Kemudian Shanghai Composite China menguat 0,46%. Selanjutnya Straits Times Singapura bertambah 0,27%. Sedangkan ASX 200 Australia terapresiasi 0,25%, dan KOSPI Korea Selatan melesat 1,08%.

Sementara untuk indeks Nikkei Jepang pada hari ini tidak dibuka karena sedang libur memperingati Hari Gunung.

Bursa Asia-Pasifik yang cenderung menguat terjadi di tengah cerah bergairahnya bursa saham AS, Wall Street pada Rabu kemarin, karena investor menyambut baik dari data inflasi terbaru pada periode Juli 2022.

Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) ditutup melesat 1,63% ke posisi 33.309,51. Sementara S&P 500 melejit 2,13% ke 4.210,24, dan Nasdaq Composite terbang 2,89% menjadi 12.854,8.

Pada Rabu malam waktu Indonesia, data inflasi AS dari sisi konsumen (Indeks Harga Konsumen/IHK) pada periode Juli 2022 resmi dirilis. Hasilnya pun lebih baik dari ekspektasi pasar.

IHK Negeri Paman Sam pada bulan lalu melandai ke 8,5% secara tahunan (year-on-year) dari sebelumnya pada Juni lalu sebesar 9,1%. IHK Juli juga di bawah ekspektasi pasar yakni 8,7%.

“Indeks harga konsumen tidak berubah dibandingkan dengan Juni lalu, jauh di bawah ekspektasi. Sementara CPI tidak termasuk barang-barang makanan dan energi yang mudah menguap naik hanya 0,3% terkecil dalam empat bulan,” ujar Departemen Tenaga Kerja AS.

Baca juga: Bursa Asia Menghijau Meski Ada Perang

Bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) akan mempertimbangkan laporan tersebut bersamaan dengan data ekonomi penting lainnya menjelang pertemuan selanjutnya di September.

“Perlambatan pada IHK Juli 2022 tampaknya merupakan bantuan besar bagi The Fed, terutama karena mereka menilai inflasi akan bersifat sementara. Namun, hal tersebut tidak benar… Jika kita melihat angka inflasi yang terus menurun, The Fed mungkin akan mulai memperlambat laju pengetatan moneter,” tutur Pendiri Quadratic Capital Management Nancy Davis dikutip CNBC International.

Meski begitu, dua pejabat The Fed yakni Presiden The Fed Minneapolis, Neel Kashkari dan Presiden The Fed Chicago, Charles Evans menegaskan bahwa ‘The Fed masih akan tetap menaikkan suku bunganya secara agresif, meskipun inflasi melandai’.

Kashkari menegaskan suku bunga acuan The Fed akan dibawa ke 3,9% pada tahun ini dan 4,4% pada tahun depan, dari level saat ini 2,25-2,5%.

“Tidak ada yang berubah. Kita harus membawa inflasi kembali ke level 2%,” tutur Kashkari, seperti dikutip dari Reuters.

Pernyataan Kashkari tersebut mementahkan ekspektasi pasar yang semula berharap The Fed akan menurunkan agresivitas kebijakannya begitu inflasi melandai.

 

Sumber

Baca juga: Bursa Saham Asia Menghijau di Senin Pagi