Kurs rupiah terkoreksi di hadapan dolar Amerika Serikat (AS) hingga di pertengahan perdagangan Senin (8/8/2022). Rupiah menjadi mata uang berkinerja terburuk hari ini di Asia. Apa penyebabnya?

Mengacu pada data Refinitv, rupiah terkoreksi pada pembukaan perdagangan sebanyak 0,03% di Rp 14.895/US$. Sayangnya, rupiah terkoreksi lebih tajam sebanyak 0,24% menjadi Rp 14.925/US$ pada pukul 11:00 WIB. Kini, rupiah kembali berada di level Rp 14.900/US$.

Indeks dolar AS yang mengukur kinerja greenback di hadapan enam mata uang dunia lainnya, terpantau bergerak melemah tipis 0,06% ke posisi 106,56.

Namun, pergerakan dolar AS masih terjaga oleh oleh imbal hasil (yield) obligasi AS yang menguat setelah rilis data tenaga kerja AS yang melebihi ekspektasi pasar, sehingga meningkatkan prediksi bahwa bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) akan kembali hawkish pada pertemuan selanjutnya di September.

Yield obligasi tenor 2 tahun berada di 3,26% pada hari ini, setelah mencapai 3,33% pada akhir pekan lalu (5/8) dan menjadi level tertinggi sejak pertengahan Juni 2022. Sementara, yield obligasi tenor 10 tahun berada di 2,84% hari ini, setelah menyentuh level tertinggi selama dua pekan di 2,86% pada Jumat (5/8).

Baca juga: Dolar AS Naik Terus, Rupiah Terkoreksi Tajam!

Kini, spread negatif antara imbal hasil tenor 2 dan 10 tahun adalah 42 basis poin (bps), setelah mencapai 45 bps pada Jumat (5/8), terbesar sejak Agustus 2000. Kurva imbal hasil terbalik secara luas ditafsirkan sebagai indikasi resesi yang akan terjadi 6 hingga 12 bulan ke depan.

Mengacu pada alat ukur FedWatch, sebanyak 73,5% analis memprediksikan kenaikan suku bunga acuan sebesar 75 basis poin (bps) pada 21-22 September 2022. Angka tersebut melonjak naik setelah rilis data tenaga kerja AS yang kuat, dari sebelumnya hanya 41%.

Investor global pada pekan ini akan fokus pada rilis Indeks Harga Konsumen (IHK) Juli 2022 yang akan dirilis pada Rabu (10/8). Konsensus analis Reuters memperkirakan inflasi AS Juli 2022 akan menurun ke 8,7% dari sebelumnya di 9,1%.

“Kemungkinan akan membutuhkan angka di bawah 8,4% untuk mendapatkan peluang kenaikan 50bp pada September sebagai pengaturan default, meskipun itu tampaknya tidak mungkin,” Chris Weston, kepala penelitian di Pepperstone, menulis dalam sebuah catatan yang dikutip Reuters.

 

Sumber

Baca juga: IHSG Terkoreksi, Namun Sentimen Masih Positif Mendorong Naik

Tags: