Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka hijau tipis 0,04% di 6.912,19 pada perdagangan Kamis (13/10/2022). Selang 8 menit, IHSG masih hijau terbatas 0,08% di 6.914,24.

Pasar saham AS belum menunjukkan tanda-tanda rebound. Kinerja indeks saham Wall Street masih tertekan pada perdagangan kemarin. Indeks Dow Jones melemah 0,1% sedangkan indeks S&P 500 turun paling tajam 0,33%. Sementara itu indeks Nasdaq Composite turun 0,09%.

Indeks saham AS masih bergerak dengan volatilitas tinggi. Kendati imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS turun, tetapi pasar saham masih terkoreksi.

Indeks langsung terkoreksi merespon data indeks harga produsen (IPP). IPP September dilaporkan menguat 0,4% (month to month/mtm) dan naik 8,5% (year-on-year/yoy). Kenaikan jauh di atas ekspektasi pasar.

Secara bulanan, indeks menguat untuk pertama kalinya dalam tiga bulan terakhir. Secara tahunan, indeks sebenarnya lebih rendah dibandingkan yang tercatat pada Agustus yakni 8,7% (yoy).

Risalah FOMC untuk September yang keluar Kamis dini hari tadi menunjukkan The Fed masih melihat inflasi belum melandai seperti yang diharapkan.Karena itulah, The Fed menegaskan sikapnya untuk melanjutkan kebijakanhawkishdemi mencegah ongkos yang lebih besar akibat terlambat menangani inflasi.

Baca juga: Ancaman Resesi, 8 Bursa Saham Ini Malah Cetak Return Fantastis!

“Masih ada risiko yang menekan inflasi ke depan, partisipan menggarisbawahistancekebijakan yang membatasi dalam jangka pendek sudah konsisten dengan pertimbangan manajemen risiko. Committee sangat berkomitmen menurunkan inflasi ke kisaran 2%,” tulis risalah The Fed.

Chief global strategist LPL Financial, Quincy Krosby, mengingatkan kebijakan ketat The Fed bisa membawa ekonomi AS ke jurang resesi. Kondisi tersebut tentu saja dihindari pelaku pasar karena ekonomi yang melambat bisa menggerus keuntungan perusahaan.

“Pasar khawatir jika kebijakan moneter terlalu ketat maka bisa mengakibatkan pasar keuangan tergelincir yang membuat likuditas kering dan membahayakan perekonomian global,” tutur Krosby, dikutip dariCNBC International.

Sentimen negatif lain yang bisa mempengaruhi pergerakan IHSG hari ini adalah masih kencangnya isu resesi. Presiden Jokowi dalam dua hari terakhir bahkan terus mengingatkan banyaknya ketidakpastian yang mengancam ekonomi dunia. Jokowi menyebut resesi, perang, hingga perubahan iklim sebagai risiko yang harus diwaspadai semua orang.

Dari dalam negeri, hari ini Bank Indonesia akan mengeluarkanSurvei Kegiatan Dunia Usaha Triwulan III 2022. Menarik ditunggu apakah kegiatan dunia usaha sudah terdampak oleh kenaikan harga BBM Subsidi pada awal September lalu.

 

Sumber

Baca juga: G20 akan Meninjau Kerangka Regulasi Kripto Minggu Ini