Ancaman resesi membuat mayoritas bursa saham global kebakaran. Namun hal tersebut justru tidak terjadi di 8 negara termasuk Indonesia.

Dari 36 indeks saham acuan global yang dihimpun oleh Bursa Efek Indonesia (IDX), sebanyak 28 indeks mencatatkan return negatif sepanjang tahun ini.

Mayoritas indeks saham negara-negara maju justru mengalami pelemahan yang tajam. Sebagai gambaran, indeks S&P 500 yang menjadi salah satu acuan investor dunia sudah terkoreksi 25% sepanjang 2022.

Selain S&P 500, indeks FTSE 100 Inggris juga turun 6,4% sedangkan indeks DAX Jerman ambrol 23% di saat yang sama.

Fenomena yang unik justru terjadi di negara-negara berkembang yang dianggap ‘fragile’ atau rentan akan shock ekonomi. Pasalnya indeks saham di negara-negara rawan krisis tersebut justru memberikan return fantastis.

NegaraKinerja Saham
Turkiye92.97%
Argentina73.23%
Chile17.90%
Brazil10.61%
Qatar10.27%
Indonesia5.43%
Uni Emirat Arab4.55%
Arab Saudi1.68%

Di klasemen 3 besar ada indeks BIST100 Turkiye dengan apresiasi 93%, kemudian disusul indeks Merval Argentina yang naik 73% dan indeks IPSA Chile yang menguat nyari 18%.

Meskipun demikian inflasi di 3 negara tersebut termasuk tinggi sehingga secara real return yang diberikan tidaklah besar. Sebut saja Turkiye, inflasi di Negeri Erdogan ini mencapai 84% secara tahunan pada September 2022.

Baca juga: Mata Uang Negara-Negara Asia Turun, Ini Alasannya

Inflasi di Argentina juga tidak kalah ngeri yang mencapai 78,5% secara tahunan pada Agustus 2-22. Sementara inflasi di Chile 13,7% pada September 2022.

Untuk kasus Turki, penguatan harga aset berisiko karena bank sentralnya justru memangkas suku bunga dan melakukan intervensi di pasar obligasi.

Di Argentina, aksi bail out utang senilai US$ 45 miliar oleh Dana Moneter International (IMF) yang disetujui oleh legislatifnya pada Maret 2022 menjadi katalis positif pendorong harga.

Menariknya lagi indeks saham di negara-negara penghasil komoditas minyak juga selamat dari tekanan koreksi. Indeks saham acuan Qatar, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) juga menguat.

Harga minyak yang naik tinggi sepanjang tahun 2022 memang menjadi berkah tersendiri. Setelah sempat drop ke bawah US$ 90/barel, kini harga minyak merangkak naik menuju US$ 100/barel meski ada isu resesi global.

Terakhir ada Indonesia yang juga mampu selamat dari tekanan koreksi. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) meski terkoreksi akhir-akhir ini, tetapi return sejak awal tahun masih positif 5,43% dan berhasil menduduki juara 1 di Asia Pasifik dan 6 dunia.

Sebagai negara penghasil komoditas terutama batu bara, Indonesia jelas diuntungkan dengan kenaikan harga si batu hitam di tengah krisis energi yang melanda Eropa akibat perang Rusia-Ukraina.

Bahkan secara kondisi makro-ekonomi, Indonesia masih lebih baik dibandingkan dengan negara emerging market lainnya. Oleh sebab itu wajar saja kalau aset keuangannya seperti saham banyak diborong asing.

 

Sumber

Baca juga: G20 akan Meninjau Kerangka Regulasi Kripto Minggu Ini