Rencana GoTo, entitas hasil merger Gojek dan Tokopedia yang berencana melantai di bursa saham domestik tampaknya urung terwujud tahun ini.

Rencana GoTo dikabarkan akan menunda rencana penawaran umum perdana saham menjadi tahun 2022 sembari menanti selesainya aturan mengenai kebijakan dual class of shares dan klasifikasi saham dengan hak suara multipel atau multiple voting share (MVS) dan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Meski ditunda, perusahaan rintisan teknologi terbesar di Indonesia ini sebelumnya akan menyelesaikan pendanaan pra-IPO dengan target dana yang dihimpun sebesar US$ 2 miliar atau sekitar Rp 28 triliun dalam beberapa pekan ke depan.

“Tetapi penundaan peraturan mengancam untuk mendorong rencana pencatatannya ke awal tahun depan,” tulis Reuters, menurut keterangan tiga sumber yang mengetahui rencana tersebut, dikutip Senin (23/8/2021).

Penundaan itu terjadi pasalnya Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mempertimbangkan pedoman pencatatan baru bagi perusahaan teknologi untuk menawarkan saham kelas ganda yang memberikan hak suara yang berbeda.

Namun, juru bicara GoTo dan OJK menolak berkomentar mengenai informasi ini.

Rencana GoTo, merupakan perusahaan hasil merger perusahaan ride hailing Gojek dan e-commerce Tokopedia pada Mei lalu. GoTo sebelumnya menargetkan untuk terdaftar di Bursa Efek Indonesia Indonesia pada akhir tahun ini, diikuti pencatatan saham di bursa saham AS dengan valuasi potensial sekitar $40 miliar.

Namun, penundaan usulan perubahan aturan listing di Indonesia, yang sekarang diharapkan akan diumumkan akhir September, berarti GoTo kemungkinan baru akan meluncurkan IPO awal tahun depan, diikuti oleh listing di AS.

Salah satu sumber mengatakan, upaya untuk mengumpulkan dana sebesar $1,5 miliar hingga $2 miliar menjelang pelaksanaan IPO menarik permintaan yang kua dan dapat diselesaikan bulan depan.

GoTo, didukung oleh investor seperti Alibaba Group Holding, Softbank Vision Fund dan Singapore Wealth Fund GIC, adalah salah satu perusahaan yang diuntungkan dari penggunaan platform digital selama pandemi.

Untuk diketahui, GoTo memang dikabarkan akan melakukan penawaran umum perdana saham. Valuasi perusahaan Gojek setelah merger dengan Tokopedia akan menghasilkan nilai kapitalisasi pasar senilai US$ 35 miliar sampai dengan US$ 40 miliar atau kisaran Rp 490 triliun – Rp 560 triliun dengan kurs Rp 14.000 per US$.

Jika target dana yang dihimpun dalam IPO sebesar 10% saja dari valuasi keduanya, nilainya mencapai Rp 49 triliun sampai dengan Rp 56 triliun.

Baca juga: GoTo Dual Listing, Asing Ambil Peran Besar?

Tags: