Sektor konsumer menjadi salah satu sektor ‘seksi’ untuk diburu investor pasar modal. Beberapa saham sektor ini pun masuk kategori kapitalisasi pasar di atas Rp 100 triliun alias big cap.

Data BEI, saham-saham big cap sektor konsumer yang paling mencolok bagi investor di antaranya PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR), PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) dan satu lagi emiten rokok PT HM Sampoerna Tbk (HMSP).

Analis PT Samuel Sekuritas Indonesia Yosua Zishoki mengungkapkan beberapa alasan mengapa sektor konsumer seakan kehilangan peminatnya.

Dia mengungkapkan pada masa pandemi daya beli masyarakat turun, meski telah ada perbaikan tahun ini namun masih belum bisa pulih seutuhnya seperti 2019.

Baca juga: Mengulas Loyonya Kinerja UNVR: Laba Turun 15,85 Persen pada Semester I 2021

Selain itu, biasanya sektor konsumer menjadi salah satu sektor yang pulih paling akhir setelah sektor komoditas dan perbankan pulih.

“Secara siklus biasanya komoditi duluan, kemudian baru masuk ke perbankan dan baru terbentuk daya belinya masyarakat yang kuat biasanya baru yang terakhir,”

“Ketika sudah cukup solid baru konsumsi akan yang menjadi paling unggul. Daya beli sudah cukup lumayan dan indeks keyakinan konsumen juga sudah cukup solid di atas 100, jadi tinggal tunggu waktu emiten ini akan mencetak keuntungan yang cukup baik ke depannya,” katanya

Meski demikian dia mengakui saat ini saham-saham yang diminati cenderung yang sedang volatil, sementara saham konsumer lebih konservatif yakni kenaikan dan penurunannya lebih terbatas. Hal ini menurut Yoshua menjadi salah satu alasan saham konsumer ditinggal dari investor yang melakukan day trade atau trader harian.

“Mereka melirik yang lebih seksi yakni masuk ke saham berbasis teknologi dan komoditas. Ke depannya misalnya ketika big fund baru melirik saham konsumer, baru akan banyak lagi animonya di saham konsumer. Kalau big fund sekarang kan lagi pada menunggu, satu stimulus seperti apa, pajak seperti apa,” jelasnya.

Yosua mengungkapkan untuk emiten konsumer di kebutuhan primer belakangan memang sedikit menurun karena adanya sensitivitas harga dan terdampak pandemi.

Baca juga: Indeks Bisnis 27 Menguat, ICBP Layak Dilirik

Di masa ini, jika ada kenaikan harga bahan baku dan produksi, industri akan sulit menaikkan harga karena daya beli yang tertekan.

Sementara emiten konsumer yang bergerak pada kebutuhan non primer, menurut dia justru memiliki resiliensi yang lebih tinggi. Produk yang dipasarkan biasanya adalah barang tersier yang seringkali konsumen tidak terlalu sensitif soal harga.

“Selain itu non primer karena dari market capnya juga berbeda, bagi yang non primer itu biasanya market capnya tidak terlalu besar sehingga volatilitas harga saham lebuh tinggi sehingga menarik bagi trader.”

“Sementara kalau investor jangka panjang pasti punya saham-saham yang primer, karena mereka salah satu lokomotif IHSG, selain perbankan, meski sekarang lagi tertekan,” kata Yosua.

Dia menilai kebangkitan saham konsumer hanya perlu menunggu waktu yang tepat, terutama di tahun pemulihan ini. Untuk itu secara jangka panjang Yoshua menilai saham sektor konsumer masih solid, begitu juga kinerja dari industri konsumsi.

“Saham-saham yang berbasis konsumer arahnya defensif stock, tapi sekarang mereka (investor) tidak butuh defensif, mereka butuh cuan. Mereka butuh chance yang mencetak keuntungan,” katanya.

Data BEI mencatat, saham ICBP ditutup di sesi I, Senin ini (14/6), naik 0,31% di Rp 8.200/saham, tapi sebulan terakhir minus 5%. Saham PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) induknya juga naik 0,40% di Rp 6.300 tapi sebulan juga turun 4,18%.

Saham HMSP turun 0,83% di Ro 1.195, dengan koreksi sebulan terakhir 8% dan saham UNVR turun 0,93% di Rp 5.300 dengan koreksi sebulan 7%.

Baca juga: HM Sampoerna (HMSP) Tebar Dividen Jumbo Rp8,46 Triliun

Tags: