BBRI Right Issue mencetak rekor terbesar sepanjang sejarah. Sebelumnya, rekor nilai rights issue terbesar dipegang oleh Bakrie & Brothers (BNBR) sebesar Rp40,12 triliun pada 2008.

Sebagai informasi, memasuki hari terakhir pelaksanaan rights issue PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) pada Rabu (22/9/2021), masih ada sejumlah Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) yang belum diexercise.

Berdasarkan keterbukaan informasi yang disampaikan, hingga Selasa kemarin, masih ada 7,33 miliar HMETD yang belum diexercise, dengan rincian 7,32 miliar dalam bentuk scriptless dan 8 juta dalam bentuk warkat.

Dengan demikian jumlah HMETD yang telah diexercise menjadi saham tercatat sebanyak 20,88 miliar unit. Dengan harga pelaksanaan Rp 3.400 maka BRI telah mendapatkan modal baru senilai Rp 70,99 triliun. Namun, sebagian bukan dalam bentuk tunai tetapi dalam bentuk inbreng saham PT Pegadaian dan PT Permodalan Nasional Madani (PNM). Inbreng saham tersebut dilakukan dalam pembentukan holding ultra mikro.

Dengan harga yang lebih murah ini, maka bisa memberikan keuntungan bagi mereka yang sudah memegang saham BBRI atau investor lama. Investor dengan kepemilikan kurang dari 1 miliar saham pun tidak perlu khawatir, karena tetap mendapatkan kesempatan membeli saham rights issue ini.

Setiap pemegang saham yang memiliki kurang dari 1 miliar saham bisa mendapatkan HMETD sesuai dengan porsi rasio HMETD. Namun, setiap HMETD yang dalam bentuk pecahan akan dibulatkan ke bawah (round down).

dividend yield dari BBRI untuk tahun 2021-2023 bakal mencapai 6%-10%. Perhitungan imbal hasil dividen ini menggunakan harga penutupan kemarin, Rabu (23/9/2021) di Rp 3.610/saham.

Dampak lain yang ditimbulkan adalah peningkatan total modal untuk 3 tahun ke depan dengan laju masing-masing 8%/6%/3%.

Rasio profitabilitas juga akan terkerek naik. Return on Asset (RoA) BBRI diperkirakan bakal kembali ke level tertinggi 3% sementara Return on Equity (RoE) bisa menyentuh 19% pada 2024.

Adanya konsolidasi dan penambahan modal lewat skema right issue ini akan berdampak pada peningkatan penyaluran kredit per tahun secara compounding (CAGR) sebesar 13,5% sampai dengan 5 tahun ke depan.

Pertumbuhan tersebut bakal didorong oleh segmen ultra mikro dan mikro yang memang memberikan imbal hasil tinggi.

Sumber

Baca juga: ENRG Lakukan Right Issue untuk Bayar Utang Rp 1,8 Triliun