Evergrande mengakibatkan kekhawatiran di berbagai sektor
Harga mata uang kripto terjun bebas dalam 24 jam terakhir. Bitcoin dan ethereum, misalnya, jatuh hingga 9,04 persen dan 10,62 persen menyusul krisis keuangan Evergrande Group di China.

Dilansir coinmarketcap.com, Selasa (21/9), bitcoin diperdagangkan US$42.989 per keping atau jatuh 9,04 persen dalam 24 jam terakhir. Dalam sepekan, bitcoin tercatat melemah 4,48 persen.

Sementara itu, ethereum rontok 10,62 persen menjadi US$2.975 per keping. Ethereum terseret jatuh 9,56 persen dalam sepekan terakhir.

Sekadar catatan brand Evergrande selama ini menghiasi hampir berbagai sudut perkotaan Negeri Panda. Selama bertahun-tahun terjadinya booming properti di negara itu, Evergrande turut membantu menciptakan jenis kegiatan ekonomi yang menjadi sandaran China untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Investor global harus dipusingkan oleh sentimen negatif baru di pasar keuangan dengan adanya kasus ancaman gagal bayar yang dialami oleh Evergrande Group. Adapun, perusahaan raksasa properti China tersebut menghadapi tantangan kebangkrutan setelah terlilit utang senilai US$300 miliar. Risiko itu pun berpeluang memberikan efek domino di China. Salah satu efek domino yang dikhawatirkan dari kebangkrutan Evergrande adalah dampak terhadap ekonomi China yang akan melambat. Selain itu, koreksi di pasar properti China pun tidak hanya akan memperlambat perekonomian domestik namun juga global termasuk Indonesia.

menyebabkan guncangan di seluruh pasar keuangan China dan memicu kekhawatiran akan konsekuensi buruk yang mungkin terjadi bagi sistem keuangan China.

Investor internasional tidak lagi hanya menghindari obligasi Evergrande yang hancur lebur, melainkan surat utang yang dikeluarkan oleh pengembang lain juga ikut merosot. Sementara itu bank-bank dengan eksposur ke sektor properti China saat ini berada di bawah pengawasan.

Kreditur yang marah ramai-ramai berunjuk rasa ke markas Evergrande, sedangkan kontraktor yang tidak dibayar menjatuhkan peralatan di lokasi pembangunannya di seluruh wilayah China, membuat krisis ini semakin menarik perhatian publik.

Sektor real estat selama bertahun-tahun telah menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi bagi negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia ini. Investasi real estat rata-rata mencapai 13,5% dari produk domestik bruto selama lima tahun terakhir, menurut perkiraan Fitch, proporsi tersebut tiga kali lipat dari tingkat ekonomi AS.

Jika ditambah sektor konstruksi dan industri terkait, angka ini naik dua kali lipat, menurut sebuah penelitian yang diterbitkan oleh Biro Riset Ekonomi Nasional yang berbasis di Massachusetts pada Agustus tahun lalu.

Presiden China Xi Jinping mencoba meredam obsesi negaranya terhadap properti dan mengatakan “perumahan adalah untuk tempat tinggal, bukan untuk spekulasi.” Dalam beberapa bulan terakhir pihak berwenang telah menargetkan banyak hal mulai dari persetujuan mortgage dan eksposur bank terhadap perumahan, hingga pertumbuhan sewa dan harga tanah, untuk mendapatkan kontrol lebih besar atas pasar.

Mereka juga telah memberlakukan pedoman ketat pada leverage perusahaan real estat di bawah kebijakan “Tiga Garis Merah”, yang mana bagi pelanggar yang melewati batas dilarang meminjam lebih banyak.

Pinjaman bermasalah ke sektor real estat melonjak 30% di lima bank terbesar menjadi 97 miliar yuan (US$ 15 miliar) dalam enam bulan pertama tahun ini, menurut sebuah laporan.

Perusahaan real estat menyumbang sekitar 30% dari obligasi gagal bayar pada semester pertama. Bank dan pialang saham utama tidak lagi menerima jaminan yang dikeluarkan oleh beberapa pengembang dengan tingkat utang signifikan.

Regulator China telah memperingatkan risiko yang lebih luas terhadap sistem keuangan negara itu jika kewajiban Evergrande senilai US$ 305 miliar tidak dapat diselesaikan, dan meminta perusahaan untuk segera menyelesaikan utangnya.

Evergrande berutang uang ke lebih dari 128 bank dan sekitar 121 lembaga non-bank, menurut isi surat yang bocor, yang ditulis oleh Evergrande kepada pemerintah akhir tahun lalu.

Puncaknya pada pekan lalu, investor ritel yang tidak puas, pembeli produk wealth management products (WMPs) – produk keuangan yang tidak diasuransikan yang dijual di China – berkumpul di markas Evergrande di Shenzhen menuntut uang mereka, setelah perusahaan hanya menawarkan pembayaran bertahap.

Obligasi luar negeri Evergrande sekarang diperdagangkan kurang dari 30 sen untuk satu dolar atau 70% lebih rendah dari harga aslinya, menunjukkan peluang gagal bayar sangat mungkin. Bloomberg melaporkan Kementerian Perumahan dan Pembangunan Perkotaan-Pedesaan China telah memberi tahu bank bahwa Evergrande tidak akan mampu membayar kewajiban utang yang jatuh tempo pada 20 September. Perusahaan juga menghadapi 15 pembayaran kupon obligasi sebelum akhir tahun, mulai dari 23 September.

Perusahaan mempertahankan Houlihan Lokey dan Admiralty Harbour Capital sebagai penasihat keuangan untuk menilai struktur permodalan dan mencari solusi untuk krisis likuiditas, memberi sinyal bahwa kegagalan untuk memperpanjang pembayaran “dapat menyebabkan gagal bayar di bawah pengaturan pembiayaan grup.”

Di sektor lain, biaya pinjaman yang lebih tinggi untuk jangka waktu yang lama dapat membebani perusahaan-perusahaan China dan pada akhirnya menyebabkan peningkatan default (gagal bayar) di seluruh sektor perbankan dan manajemen kekayaan.

Obligasi yang diterbitkan oleh pengembang properti lain yang berutang besar, Guangzhou R&F, sat ini harganya 58% dari nilai nominalnya, dibandingkan dengan 72% pada awal bulan. Moody’s menurunkan peringkat kredit dan memperingatkan kemungkinan kesulitan akan pembiayaan kembali utangnya. Obligasi dari Fantasia Group yang berbasis di Shenzhen, pengembang lain yang menghadapi kekhawatiran refinancing, diperdagangkan pada 56 sen untuk satu dolar.

Akankah krisis gagal bayar Evergrande bisa cepat teratasi?

Baca juga: Suku Bunga Acuan Australia Tetap di 0,10%, Perekonomian Membaik

Tags: