Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk kembali menahan suku bunga acuan alias BI 7 days reverse report rate dalam Rapat Dewan Gubernur BI September 2021 di level 3,50%. Gubernur BI Perry Warjiyo mengungkapkan, ini sejalan dengan perlunya bank sentral dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan sistem keuangan karena ketidakpastian di pasar keuangan global.

Selain menahan suku bunga acuan, bank sentral juga menahan suku bunga deposit facility sebesar di level 2,75% dan suku bunga lending facility di level 4,25%. Perry menambahkan, BI tetap akan mengoptimalkan seluruh bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan dan mendukung upaya pemulihan ekonomi nasional lebih lanjut.

Berdasarkan Rapat Dewan Gubernur BI yang digelar pada tanggal 20 – 21 September lalu. Bank Indonesia melihat kinerja ekonomi domestik telah menunjukkan adanya perbaikan secara bertahap seiring dengan perbaikan mobilitas akibat pelonggaran PPKM. Pada awal Agustus 2021, aktivitas domestik membaik dan tercermin dari beberapa indikator diantaranya penjualan retail, PMI manufaktur, sistem kliring BI dan RTGS yang menunjukkan adanya peningkatan.

Selain itu, kinerja ekspor tetap kuat seiring dengan kenaikan permintaan dari mitra dagang. kemudian, rupiah tercatat dalam posisi depresiasi 1,35% secara year to date, relatif lebih rendah dibanding mata uang negara berkembang lainnya seperti Malaysia, Filipina dan Thailand.

Bank Indonesia mencatat, sebanyak Rp 2,99 triliun modal asing keluar dari pasar keuangan domestik pada minggu ketiga September 2021. Aliran modal asing yang keluar dari pasar Surat Berharga Negara (SBN) mencapai Rp 4,03 triliun dan pasar saham sebesar Rp 1,04 triliun. Di sisi lain, aliran modal asing yang masuk ke pasar keuangan domestik sepanjang 2021 tercatat mencapai Rp 18,21 triliun.

Pada saat yang sama, imbal hasil SBN tenor 10 tahun tercatat meningkat menjadi 6,14%. Bank Indonesia akan terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan otoritas terkait untuk memonitor secara cermat dinamika penyebaran Covid-19 dan dampaknya terhadap perekonomian Indonesia dari waktu ke waktu.

Upaya lainnya, juga dilakukan dengan memperkuat langkah-langkah koordinasi kebijakan lanjutan yang perlu ditempuh untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan, serta menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap baik dan berdaya tahan.

Bank Indonesia menilai kondisi perekonomian Indonesia saat ini dapat lebih kuat dibandingkan pada tahun 2013 untuk menghadapi fluktuasi dari pasar keuangan dimana The Fed diproyeksikan akan segera melakukan tapering.

Sumber