Harga saham sektor perbankan yang berisi mayoritas kapitalisasi terbesar terlihat turun sepanjang Januari hingga Juli 2020. Namun, penurunan ini diprediksi akan berakhir dengan pemulihan ekonomi yang terlihat sudah dekat.

Harga Saham Perbankan Turun

Saham sejumlah bank kategori Buku IV terlihat turun dalam harganya sepanjang periode Januari 2020 hingga Juli 2020. Walau demikian, pemulihan ekonomi yang sudah terlihat, nampaknya akan memperbaiki kinerja perbankan dan mendorong kebangkitan saham sektor tersebut.

Pada Hari Kamis 27 Agustus 2020, Ketua Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso, menyatakan bahwa per Juli 2020, pertumbuhan kredit industri perbankan hanya 1,53% secara tahunan. Pandemi Covid-19 yang memukul dunia usaha dan perekonomian nasional berimbas pada kinerja industri perbankan dalam penyaluran kredit. Hal ini disebabkan turunnya kemauan masyarakat untuk konsumsi akibat turunnya kemampuan produksi yang mempengaruhi pendapatan.

Kondisi penurunan ini tercermin langsung pada kinerja saham sejumlah bank terbesar tanah air. Semua bank dengan modal inti di atas Rp20 Triliun mengalami penurunan harga saham yang signifikan dibandingkan harga tahun lalu.

Mengutip data dari Indo Premier pada akhir Juli 2020, harga saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) berada di level Rp3.160, turun 28,18% (YTD). PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) berada di level Rp5.800, turun 24,43%. Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) berada di level Rp31.200, turun 6,66%, terkecil di antara bank Buku IV.

Untuk PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) saat ini berada di level Rp4.600, turun 41,4% dibanding akhir 2019. Saham PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) berada di level Rp770, turun 20,21%. Kemudian, harga saham PT Bank Panin Tbk (PNBN) berada di level Rp805, turun 39,70%. Harga saham PT Bank Danamon Tbk (BDMN) berada di level Rp2.740, turun 30,63% dibanding tahun lalu.

Pemulihan Akan Terjadi

Kepala Riset PT Binaartha Sekuritas, Muhammad Nafan Aji Gusta, mengatakan penurunan harga saham sektor perbankan pada tahun 2020 merupakan hal yang pasti terjadi. Pandemi virus Covid-19 telah memukul perekonomian nasional maupun dunia. Dunia usaha dan aktivitas ekonomi banyak terhenti akibat kebijakan pemerintah memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar di berbagai daerah Indonesia.

Hal ini disebabkan oleh terbatasnya ruang untuk melakukan kegiatan ekonomi seperti memproduksi. Sehingga, secara keseluruhan atau agregat, produksi di negara menjadi turun yang berdampak pada pendapatan masyarakat. Dengan turunnya pendapatan masyarakat, insentif untuk melakukan konsumsi menjadi turun. Sehingga, membuat konsumsi agregat masyarakat menjadi turun, yang membuat beberapa konsumsi sekunder seperti konsumsi kredit menjadi turun.

Baca juga: Tender Offer Saham Bank Permata Dimulai Hari Ini

Namun Aji menegaskan, kebangkitan harga saham perbankan sudah mulai terlihat. Ini karena investor mulai mengapresiasi sejumlah kebijakan dari pemerintah dan OJK yang menolong industri perbankan. Mulai dari kebijakan restrukturisasi kredit hingga menempatkan dana pemerintah di bank BUMN .

Data dari Indo Premier menunjukkan setelah mengalami titik terendah pada pertengahan Mei, harga saham bank besar mulai menunjukkan grafik meningkat. Peningkatan ini terlihat terjadi hingga akhir Juli 2020 ini walaupun harga pada akhir Juli masih tetap jauh dibanding akhir tahun lalu.

Dilansir dari IPOTNEWS

Tags: