GoTo  berhasil menyihir BEI atau Bursa Efek Indonesia untuk menguah peraturan agar mempermudah GoTo masuk bursa. Dilansir dari Bisnis.com Bursa Efek Indonesia (BEI) menyatakan akan menyesuaikan aturan pencatatan saham bagi perusahaan teknologi seperti GoTo (perusahaan gabungan Gojek-Tokopedia) yang berpotensi menghimpun pendanaan dalam jumlah dana besar di pasar modal.

Salah satu peraturan yang akan disesuaikan ialah persyaratan pencatatan di Papan Utama yang minimal harus mencatatkan laba bersih dalam setahun terakhir. Kebijakan ini, tentunya dinilai belum sesuai dengan karakteristik perusahaan yang terus berkembang belakangan, termasuk unicorn dari sektor teknologi.

Direktur Penilaian Perusahaan Bursa Efek Indonesia (BEI) I Gede Nyoman Yetna mengatakan Bursa telah melakukan beberapa pengembangan yang dapat mendukung kegiatan IPO dan pencatatan di Indonesia, termasuk bagi perusahaan di bidang teknologi. Salah satunya, Bursa sedang dalam tahapan penyelesaian pengembangan Peraturan Bursa no. I-A mengenai pencatatan efek. Selain itu BEI juga dalam proses diskusi bersama OJK dalam rangka pengembangan regulasi terkait multiple voting shares (MVS).
“Kami telah menyampaikan hasil rule making rule (RMR) Peraturan Bursa No. I-A kepada OJK dan saat ini dalam tahapan pembahasan bersama OJK. Kami menargetkan Peraturan I-A yang baru dapat digunakan oleh stakehokders sesegera mungkin,” kata Nyoman, Selasa (18/5/2021)
“Sampai dengan saat ini, kami belum menerima dokumen permohonan pencatatan baik dari Gojek, Tokopedia ataupun entitas gabungan Gojek-Tokopedia,” sambungnya.
Namun sebagai otoritas Bursa, Nyoman menegaskan bahwa pihaknya selalu siap menerima dan akan memproses seluruh permohonan perusahaan yang berencana untuk IPO melepas saham di bursa. Kesiapan tersebut menurut Nyoman diwujudkan bursa dalam pengembangan beberapa aturan yang dapat mendukung kegiatan IPO, termasuk bagi perusahaan di bidang teknologi.
Pertama, bursa telah melakukan pengembangan terhadap klasifikasi perusahaan melalui peluncuran IDX-IC (IDX-Industrial Classification) dan sudah berlaku mulai 25 Januari 2021. Adanya klasifikasi baru tersebut diharapkan lebih menggambarkan sektoral dan industri dari para Perusahaan Tercatat.
Kedua, bursa juga sedang dalam tahapan penyelesaian pengembangan Peraturan Bursa No. I-A. Serta terakhir, bursa juga aktif berdiskusi bersama OJK dalam rangka pengembangan regulasi terkait multiple voting shares (MVS).
“Beberapa hal tersebut diharapkan dapat mengakomodasi perusahaan seperti GoTo yang memang layak tercatat di Papan Utama untuk dapat tercatat di Papan Utama serta sebagai upaya Bursa Efek Indonesia dalam rangka merespons perkembangan dunia bisnis saat ini,” ujarnya.

Ketiga, kebijakan dual class of shares (DCS) yakni diperlukannya multiple voting shares (MVS), yang mana ada saham yang mana kepemilikannya mungkin kecil tapi hak suaranya lebih besar daripada kepemilikannya. Kebijakan ini juga sudah menjadi praktik di bursa saham global.

Sebagai informasi, ada tiga papan perdagangan di BEI: Papan Utama, Papan Perdagangan, dan Papan Akselerasi.

Data BEI menjelaskan, salah satu syarat emiten listing di Papan Utama yakni setahun terakhir mencatatkan laba, sementara di Papan Pengembangan dapat belum memiliki laba, tetapi proyeksi tahun kedua sejak tercatat harus mendapat laba usaha dan laba bersih.

Baca juga: GoTo Dual Listing, Asing Ambil Peran Besar?

 

Tags: