Bukalapak.com (BUKA), pada perdagangan Selasa lalu (10/8/2021), sebelum libur 1 Muharram Rabu kemarin (11/8) mengalami guncangan pasar saham domestik sempat heboh dengan ramainya respons investor ritel terhadap kejatuhan harga

Data BEI mencatat, harga saham BUKA ambles dan menyentuh auto reject bawah (ARB) alias turun 6,76% ke harga Rp 1.035/saham. Penurunan ini terjadi pada hari ketiga saham ini diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Lebih mengejutkan lagi, antrian jualan BUKA di level ARB mencapai 6,4 juta lot atau setara dengan Rp 661 miliar. Bahkan tercatat antrean jualan (offer) BUKA di seluruh harga menembus angka 7 juta lot.

Padahal, pada hari pertama perdagangannya, pada Jumat (6/8/2021) saham BUKA mencapai harga auto reject atas (ARA) dengan kenaikan 24,71% ke harga Rp 1.060 dari harga pembukaannya di Rp 850/saham dengan antrian beli yang sempat menembus angka 25 juta lot.

Kemudian, pada perdagangan hari kedua juga sempat mengalami ARA namun aksi jual yang cukup besar terjadi sepanjang perdagangan. Sehingga saham ini harus berpuas untuk finis pada posisi apresiasi 4,72% di Rp 1.110/saham.

Harga saham yang turun ini membuat investor ritel tak puas, bahkan mengamuk karena merasa telah rugi membeli sahamnya.

Kekecewaan ini diungkapkan para investor melalui pemberian rating dan komentar aplikasi Bukalapak di Playstore.

Akun Android Burhani Sulthon memberikan rating 1 bintang dan komentar, “Salam nyangkut ARB, kalo udah ARA ane kasih 5, Gan… Trims.

Komentar lainnya dari akun Indra, “ARB, beli auto rugi.”

Rating bintang satu lainnya juga diberikan oleh akun Naufal Dwinanda yang ikut berkomentar, “Segini dulu sebanding lurus dengan harga BUKA.”

Bukalapak.com pun memberikan tanggapan terkait pemberitaan tersebut. VP Corporate Affairs PT Bukalapak.com Tbk, Siti Sufintri Rahayu menegaskan bahwa apa yang membuat investor ritel itu geram adalah murni mekanisme pasar.

“Sebagai informasi, transaksi saham Bukalapak di bursa saham setelah melakukan listing murni merupakan mekanisme pasar,” tuturnya dalam keterangan resmi kepada detikcom, Selasa (10/8/2021).

Sebelumnya, mengutip CNBC Indonesia, ada sebuah lapak atas nama Putri Rahmawati asal Bekasi, Jawa Barat yang menjual saham BUKA dengan harga Rp 1.000 per lembar. Harga itu tentu di bawah harga pasar saham BUKA saat ini.

“Gapapa, cutloss yang penting bisa kejual, ada 7 juta lot coba, sedih,” tuturnya di deskripsi penjualan di laman Bukalapak.com.

Saya turut prihatin kepada ritel yg nyangkut di harga ARA (karena hari pertama kebanyakan ritel pasti ga kebagian beli, terutama YP PD CC). Saya sendiri sudah lepas ini saham di hari pertama (takut mau hold karena melihat gelagat pre-IPO nya!!). Tapi saya jujur kaget, di hari pertama sejak IPO, $BUKA sudah diguyur habis2an oleh ASING (dan imbasnya hari ke 2 memakan KORBAN ritel yang antri pada harga ARA). Prediksi saya bahwa ini adalah ‘EXIT PLAN’ dari para investor ‘Lama’ LupaBapak #UNINSTALL,” kata dia.

Komentar ini ditanggapi oleh akun Bukalapak,

“Hi Kak, terima kasih atas perhatiannya terhadap Bukalapak. Sebagai informasi, transaksi saham Bukalapak di bursa saham, setelah melakukan listing murni merupakan mekanisme pasar, ya. Terima kasih :).”

Namun komentar ini tak sepenuhnya negatif. Salah satu akun Julianto Salim mengatakan bahwa pemberian rating dan harga saham sama sekali tidak berhubungan sehingga komentar-komentar ini tidak relevan dengan performa aplikasi.

“Pada bocil ya baru terjun di saham. Rugi itu masalah mekanisme pasar. Kenapa rating di Playstore? Playstore itu untuk ngerating apps-nya bagus ga, ada kendala ga pas penggunaannya. Lu yang pencet beli di haka [hajar kanan] malah lu rating di sini. Logikanya tolong dipake minimal 1% aja kangan 0%. Keliatan bodohnya,” kata dia.

Komentar senada lainnya disampaikan oleh akun Nur Akhlish.

“Nyangkut di saham pada teriak di sini. Emang Bukalapak nyuruh lu beli sahamnya?? Dasar bodoh. Kalo mau untung ngga mau rugi jangan beli saham, masukin celegan aja. Lot ngga seberapa banyak tingkah. Tetap bintang 5 buat Bukalapak,” katanya.

Baca juga: BUKA ARA 25%, Lalu Diobral Asing

Tags: