Harga bitcoin hari ini terpantau melemah, di mana investor makin khawatir dengan inflasi global yang berpotensi kembali meninggi akibat adanya penghentian pengoperasian pipa gas alam terbesar di Eropa.

Melansir data dari CoinMarketCap pada pukul 09:15 WIB, Bitcoin ambles 4,88% ke posisi harga US$18.772,41 atau setara dengan Rp 278.394.840. Sedangkan untuk Ethereum ambrol 6,82% ke posisi US$1.520,63 atau Rp22.550.943.

Bitcoin terkoreksi ke kisaran US$18.000, di tengah kekhawatiran pasar akan potensi perlambatan ekonomi global karena inflasi masih cenderung tinggi dan sikap hawkish bank sentral Amerika Serikat (AS) dan Eropa terkait kebijakan moneter.

Terkoreksinya Bitcoin, Ethereum, dan kripto lainnya terjadi setelah rilis data aktivitas jasa di AS yang cenderung membaik pada Agustus 2022.

Data Purchasing Manager’s Index (PMI) jasa AS versi ISM dilaporkan naik ke posisi 56,9 pada bulan lalu, lebih baik ketimbang Juli lalu di angka 56,7.

Angka ini tentunya lebih ciamik dibandingkan dengan konsensus yang memprediksi PMI jasa di angka 55,1. Rilis ini menunjukkan aktivitas jasa yang terkuat sepanjang 4 bulan terakhir.

Menurut analis pasar dari Oanda, Edward Moya, bulan September menjadi periode yang cenderung dihindari oleh pelaku pasar, jika dilihat dari historisnya.

Dia juga mengatakan bahwa data aktivitas jasa AS yang makin membaik mendorong bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) semakin yakin untuk menaikkan kembali suku bunga acuannya.

“September tahun ini menjadi bulan yang penuh tantangan karena ekonomi yang tangguh membuka jalan bagi The Fed melakukan pengetatan lebih lanjut,” kata Moya kepada CoinDesk.

Trader ritel mulai panik lagi karena saham ‘meme’ dan kripto jatuh di bawah tekanan. Bitcoin menembus di bawah level teknikal utamanya,” tambah Moya.

Baca juga: Cara Membuat, Membeli, dan Menjual NFT!

Sementara itu di Ethereum, setelah sempat melonjak pada Selasa pagi dan juga sempat mengungguli Bitcoin, Ethereum berbalik arah dan anjlok.

Bergairahnya Ethereum pada Selasa pagi karena investor menyambut baik atas proses upgrade yang disebut Ethereum Merge atau The Merge, di mana proses upgrade ini mengubah protokol dari sebelumnya Proof-of-Work (PoW) menjadi Proof-of-Stake (PoS) yang lebih hemat energi.

Akhir bulan ini, The Fed akan kembali mengumumkan kebijakan suku bunga acuannya. Pelaku pasar mengantisipasi The Fed akan mengerek suku bunga acuannya sebesar 75 basis poin (bp) dengan probabilitas mencapai 72%.

Selain The Fed, dalam waktu dekat investor juga menanti kebijakan moneter bank sentral Eropa (European Central Bank/ECB). Kamis pekan ini, para bos ECB akan bertemu dan memutuskan suku bunga acuan mereka.

Konsensus yang dihimpun oleh Trading Economics memperkirakan ECB akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 75 basis poin (bp) menjadi 1,25%.

Ekspektasi tersebut selain merespons tekanan inflasi yang tinggi juga berpotensi masih akan meningkat. Apalagi Rusia kini semakin membatasi pasokan gas untuk Eropa.

Belum lama ini, ‘BUMN’ gas Negeri Beruang Merah, Gazprom menyatakan akan menghentikan aliran gas ke Eropa sampai waktu yang belum diketahui dengan alasan perawatan (maintenance).

Bahkan terbaru, sanksi ekonomi yang diberikan oleh Barat merupakan penyebab diberhentikannya pasokan gas ke Eropa hingga waktu yang belum ditentukan.

 

Sumber

Baca juga: Alasan Pemerintah Tidak Segera Luncurkan Bursa Kripto Indonesia