Diversifikasi investasi merupakan istilah yang sering diumpamakan dalam analogi telur dan keranjang. Di mana sebaiknya tidak menyimpan telur dalam satu keranjang. Cara ini dimaksudkan agar jika ada telur dalam salah satu keranjang bermasalah atau pecah, masih ada telur di keranjang lain.

Secara garis besar, diversifikasi adalah strategi manajemen risiko yang memadukan berbagai macam investasi dalam portofolio. Portofolio yang terdiversifikasi berisi campuran jenis aset dan sarana investasi yang berbeda dalam upaya membatasi eksposur terhadap aset atau risiko tunggal.

Diversifikasi Lintas Sektor dan Industri

Selama pandemi hingga transisi menuju endemi, terdapat perubahan signifikan pada kinerja emiten. Saat pandemi berlangsung, investor bisa saja mencermati saham sektor kesehatan dan rumah sakit yang moncer.

Namun, untuk memninimalkan penurunan imbal hasil saat pandemi mulai surut, investor dapat mempertimbangkan sektor lain yang berumur relatif panjang dan cenderung tahan terhadap situasi apapun, misalnya konsumer.

Contoh lainnya, saham sektor komoditas khususnya batu bara yang tampak perkasa pada tahun ini. Namun, bersamaan dengan itu, masyarakat dunia gencar menyuarakan energi hijau. Sehingga untuk melindungi kerugian pada investasi batu bara di masa mendatang, investor dapat mempertimbangkan untuk investasi pada emiten berbasis ESG.

Baca juga: Diversifikasi Portofolio Kamu dengan 4 Jenis Saham ini!

Diversifikasi Antar Perusahaan

Lebih spesifik, meski tren kinerja emiten dalam satu sektor umumnya senada, namun tak menutup kemungkinan ada kondisi di mana hanya satu atau dua perusahaan mencatatkan kinerja berbeda. Penyebabnya beragam. Bisa jadi karena ada perubahan manajemen, sehingga kebijakan dan tata kelola perusahaan turut berubah. Akibatnya, berimbas pada kinerja perusahaan.

Padahal, investor percaya pada prospek sektor tersebut, misalnya pada perusahaan teknologi. Investor bisa saja berinvestasi pada emiten yang produknya digunakan sehari-hari oleh investor. Namun jika investor percaya pada masa depan sektor teknologi, maka bisa melirik emiten lain pada sektor yang sama.

Diversifikasi Lintas Kelas Aset

Selama ini, investasi umumnya diasosiasikan hanya pada aset saham, padahal ada banyak instrumen lain yang tak kalah menarik dari sisi imbal hasil. Namun instrumen berbeda memiliki cara kerja yang berbeda pula berdasarkan kondisi makroekonomi yang luas.

Misalnya, jika Bank Sentral AS, Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga, pasar ekuitas mungkin masih berkinerja baik karena kekuatan ekonomi yang relatif terjaga. Namun, kenaikan suku bunga justru menurunkan harga obligasi. Oleh karena itu, investor sering mempertimbangkan untuk membagi portofolio mereka menjadi beberapa kelas aset yang berbeda untuk melindungi dari risiko keuangan yang meluas.

 

Sumber

Baca juga: Ingin Investasi Cryptocurrency Tapi Masih Bingung? Yuk Kenali Jenisnya