September Effect, Apa Itu?

Pasar modal memiliki beberapa musim yang tak jarang jadi acuan investor untuk menakar keputusan investasi. Sebab, kondisi pada kurun waktu tertentu disebut bisa membawa pasar pada tren bullish atau bearish.

Salah satu periode yang bersejarah di pasar modal adalah pada bulan ini, September. Di mana biasanya pasar akan mencatatkan kinerja buruk sepanjang bulan ini. Orang-orang menyebut kondisi itu sebagai September Effect. Sejak 1928 hingga 2021, indeks S&P 500 rata-rata mengalami penurunan 1 persen selama September. Meski angka ini bukan yang paling buruk selama satu tahun.

Efek September adalah anomali pasar dan tidak terkait dengan peristiwa atau berita pasar tertentu. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, efeknya telah hilang. Selama 25 tahun terakhir, untuk S&P 500, imbal hasil (return) rata-rata untuk September adalah sekitar -0,4 persen, sedangkan return bulanan rata-rata sekarang tercatat positif. September effect saat ini sudah tidak sesering sebelum tahun 1990.

Salah satu penjelasannya adalah bahwa investor bereaksi dengan pre-positioning, yaitu menjual saham pada bulan sebelumnya. September effect tidak terbatas pada pasar saham AS saja, tetapi juga bisa terjadi pada pasar saham banyak negara.

Baca juga: Mengenal Clientele Effect dalam Pasar Saham

Melansir laman Investopedia, beberapa analis menganggap efek negatif pada pasar disebabkan oleh bias perilaku musiman. Di mana investor mengubah portofolio mereka pada akhir musim panas untuk mendapatkan uang.

Alasan lain, bisa jadi sebagian besar reksa dana menguangkan kepemilikan mereka untuk memanen kerugian pajak.

Teori khusus lainnya menunjukkan fakta bulan-bulan musim panas biasanya memiliki volume perdagangan yang ringan, karena sejumlah besar investor biasanya mengambil waktu liburan dan menahan diri untuk tidak secara aktif memperdagangkan portofolio mereka selama waktu henti ini.

Begitu musim gugur dimulai dan para investor yang berlibur ini kembali bekerja, mereka keluar dari posisi yang telah mereka rencanakan untuk dijual. Ketika ini terjadi, pasar mengalami peningkatan tekanan jual, mengakibatkan penurunan secara keseluruhan. Selain itu, banyak reksa dana mengakhiri tahun fiskal mereka pada September.

Manajer reksa dana, biasanya menjual posisi yang merugi sebelum akhir tahun. Tren ini merupakan penjelasan lain yang memicu buruknya kinerja pasar selama September.

 

Sumber

Baca juga: Mengenal Apa itu January Effect dalam Pasar Saham