Apa itu Clientele Effect?

Clientele effect adalah perubahan harga saham akibat pengambilan keputusan perusahaan yang memicu reaksi investor. Perubahan kebijakan yang dipandang oleh pemegang saham tidak menguntungkan dapat menyebabkan mereka menjual sebagian atau seluruh kepemilikannya, sehingga menekan harga saham.

Clientele effect mengasumsikan bahwa investor tertentu pada awalnya tertarik pada suatu kebijakan perusahaan yang berbeda, dan ketika perusahaan tersebut mengubah satu atau lebih kebijakan tersebut, mereka akan menyesuaikan kepemilikan saham mereka. Akibat penyesuaian ini, harga saham bisa berfluktuasi.

Pergeseran kebijakan yang besar dapat mengganggu kepentingan jangka panjang perusahaan, serta portofolio pemegang saham. Begitu sebuah perusahaan menetapkan pola kebijakan dan menarik pelanggan tertentu, biasanya yang terbaik adalah tidak terlalu banyak mengutak-atiknya.

Ada banyak kontroversi tentang apakah clientele effect adalah fenomena nyata di pasar. Beberapa percaya bahwa dibutuhkan lebih banyak faktor daripada hanya keinginan klien perusahaan untuk menggerakkan harga saham secara signifikan. Selain itu, meskipun investor dapat beralih ke perusahaan yang menawarkan profil yang mereka inginkan, perubahan tersebut dapat menyebabkan biaya transaksi, kejadian kena pajak, dan biaya lainnya.

Dividend Clientele

Ekuitas publik biasanya dikategorikan sebagai sekuritas yang membayar dividen atau tidak. Masing-masing kategori ini menautkan ke usia tertentu dalam siklus hidup bisnis saat matang.

Misalnya, saham dengan pertumbuhan tinggi secara tradisional tidak membayar dividen. Namun, mereka lebih cenderung menunjukkan apresiasi harga yang substansial seiring pertumbuhan perusahaan. Di sisi lain, saham yang membayar dividen cenderung menunjukkan pergerakan capital gain atau keuntungan modal yang lebih kecil tetapi memberi penghargaan kepada investor dengan dividen yang stabil dan berkala.

Pemegang saham dalam dividend clientele umumnya mendasarkan preferensi mereka untuk rasio pembayaran dividen tertentu  pada tingkat pendapatan yang sebanding, pertimbangan pajak penghasilan pribadi, atau usia mereka.

Clientele Effect sering dikaitkan dengan tingkat dividen dan pembayaran oleh perusahaan.

Pertimbangan Khusus

Beberapa investor, seperti Warren Buffett yang legendaris, mencari peluang investasi di saham dengan dividen tinggi. Lainnya, seperti investor teknologi, sering mencari perusahaan dengan pertumbuhan tinggi dengan potensi keuntungan modal yang luar biasa. Dengan demikian, efeknya pertama-tama menguraikan cara di mana kematangan suatu perusahaan dan operasi bisnis pada awalnya menarik jenis investor tertentu.

Sisi kedua dari clientele effect menggambarkan bagaimana investor saat ini bereaksi terhadap perubahan substansial dalam kebijakan perusahaan. Misalnya, jika saham teknologi publik tidak membayar dividen dan menginvestasikan kembali semua keuntungannya kembali ke dalam operasinya, pada awalnya menarik investor pertumbuhan. Namun, jika perusahaan berhenti menginvestasikan kembali dalam pertumbuhannya dan malah mulai menyalurkan uang untuk pembayaran dividen, investor dengan pertumbuhan tinggi mungkin cenderung untuk keluar dari posisi mereka dan mencari peluang lain yang lebih sesuai dengan kebutuhan mereka. Investor pendapatan pencari dividen sekarang dapat melihat perusahaan sebagai investasi yang menarik.

Pertimbangkan sebuah perusahaan yang telah membayar dividen dan akibatnya telah menarik pelanggan yang mencari saham dengan pembayaran dividen tinggi. Jika perusahaan harus mengalami penurunan atau memilih untuk mengurangi penawaran dividennya, investor dividen dapat menjual saham mereka dan menginvestasikan kembali hasilnya di perusahaan lain dengan return yang lebih tinggi. Akibat aksi jual, harga saham perseroan cenderung turun.

Contoh Efek Klien

Pada tahun 2016, CEO Northwestern Mutual secara terbuka mengumumkan dalam siaran pers penurunan 45 basis poin dalam tingkat bunga skala dividen. Keputusan ini terbukti berdampak negatif terhadap kebijakan dividen perusahaan. Mengikuti rencana yang diungkapkan, perusahaan menurunkan tingkat dividen dari 5,45% menjadi 5,00%.

Sementara itu, pada tahun 2001, Winn-Dixie memangkas dividennya dan mengubah struktur pembayarannya, memilih untuk mendistribusikan pendapatan tunggakan triwulanan daripada bulanan di muka. Para pemegang sahamnya, yang banyak di antaranya menghargai pendapatan reguler saat ini, tidak senang, dan sahamnya anjlok. Beberapa ahli melihat ini sebagai clientele effect.

 

Sumber

Baca juga: Mengenal Apa itu January Effect dalam Pasar Saham