Apa itu January Effect?

January Effect merupakan suatu peristiwa dimana harga saham cenderung meningkat di bulan Januari. Efek ini membuka peluang bagi para investor untuk membeli saham ketika harga lebih rendah sebelum Januari. Lalu, mereka dapat menjualnya setelah harga sahamnya naik di awal tahun.

January Effect pertama kali diketahui pada tahun 1942 oleh seorang bankir investasi Sidney Wachtel. Ia memperhatikan bahwa saham cenderung naik pada bulan Januari lebih banyak dibanding pada bulan-bulan lainnya.

Para akademisi mengkonfirmasi teori ini selama bertahun-tahun di saham AS, kelas aset lainnya, dan pasar lainnya. Namun, seiring berkembangnya teori, teori tersebut disajikan kembali untuk menunjukkan bahwa saham yang lebih kecil akan mengungguli saham besar. Ini karena saham yang lebih kecil memiliki pasar yang kurang efisien, sehingga kekuatan yang menyebabkan saham naik di bulan Januari akan lebih mempengaruhi mereka.

Bagaimana Efek Januari Bekerja?

Ketika Efek Januari berhasil, ada tiga kemungkinan penyebab.

Tax-Loss Theory

Tax-loss theory dianggap sebagai penjelasan yang paling sederhana untuk January Effect. Banyak investor menjual saham yang merugi selama kuartal terakhir tahun pajak sehingga mereka bisa menutupi kerugian tersebut ke dalam tax return mereka untuk tahun tersebut. Tekanan jual ini mendorong harga turun di bulan Desember—lalu di bulan Januari, harga pulih ketika investor mulai membeli lagi. Teori ini tidak sepenuhnya meyakinkan karena January Effect juga telah diamati di pasar di mana tidak ada pajak capital gain —artinya tidak ada tekanan jual yang dibuat-buat di bulan Desember. 

Year-End Bonus Fuels Trading

Alasan berikutnya yang mungkin untuk efek ini adalah bahwa banyak karyawan menerima bonus akhir tahun pada bulan Januari, yang dapat membantu mereka untuk membeli sekuritas. Teori ini bermula dari kritik terhadap tax-loss theory. Para peneliti menemukan bahwa January Effect ada di pasar seperti Jepang yang tidak mengizinkan kerugian untuk mengimbangi pajak capital gain. Menariknya, mereka mengamati bahwa jangka waktu Desember-Januari juga bertepatan dengan pekerja yang menerima bonus setengah tahunan.

Portfolio Rebalancing

Penjelasan potensial ketiga untuk January Effect adalah “portfolio rebalancing”, sebuah teori umum pada 1970-an dan 1980-an ketika January Effect paling kuat. Teori tersebut menyatakan bahwa manajer portofolio akan melakukan window dressing portofolio mereka dengan menjual saham berisiko pada bulan Desember sehingga saham tersebut tidak akan muncul di laporan tahunan. Kemudian para manajer akan menumpuk kembali ke dalam saham-saham yang lebih kecil ini di bulan Januari. Teori ini masuk akal karena sebagian besar penelitian telah menunjukkan bahwa saham yang lebih kecil (yaitu, saham berisiko) memiliki return tertinggi di bulan Januari. 

Apa Artinya bagi Investor Individu

Dalam beberapa tahun terakhir, January Effect tidak konsisten untuk pasar saham AS. Mungkin efeknya terjadi di kelas aset lain atau di pasar yang kurang berkembang di mana pasar kurang efisien (seperti dulu di saham kecil AS), namun para ahli melaporkan temuan yang tidak meyakinkan.

Banyak faktor musiman yang dapat memengaruhi pasar saham, namun mungkin sebaiknya tidak hanya mengandalkannya saat membuat keputusan investasi.

 

Sumber

Baca juga: Mengenal Analisis Elliot Wave, Salah Satu Cara Terbaik Melihat Pasar