Bumi Resources Private Placement, Kapan?

Emiten tambang batu bara milik Grup Bakrie PT Bumi Resources Tbk (BUMI) berencana untuk menambah modal dengan skenario PMTHMETD atau private placement (PP). Aksi korporasi tersebut tertuang dalam keterbukaan informasi perseroan yang terbit hari ini, Jumat (2/9/2022).

BUMI berencana menerbitkan 200 miliar saham Seri C baru di harga Rp 120/unit, sehingga total nilai penerbitan mencapai Rp 24 triliun. Dana yang diperoleh dari aksi korporasi tersebut akan digunakan untuk melakukan penyelesaian kewajiban perseroan berupa pembayaran utang Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) kepada kreditur PKPU.

Prospektus menyebutkan, penambahan modal dalam rangka memperbaiki posisi keuangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 huruf a dapat dilakukan sepanjang memenuhi kondisi sebagai berikut, antara lain apabila suatu perusahaan terbuka mempunyai modal kerja bersih negatif dan mempunyai liabilitas melebihi 80% dari aset perusahaan terbuka pada saat rapat umum pemegang saham (“RUPS”) yang menyetujui PMTHMETD tersebut.

Berdasarkan laporan keuangan interim konsolidasian Perseroan untuk periode enam bulan yang berakhir pada tanggal 30 Juni 2022, yang telah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik Amir Abadi Jusuf, Aryanto, Mawar dan Rekan (RSM), Perseroan mempunyai:

1. modal kerja bersih negatif sebesar USD1.921.138.635 (yang berasal dari perhitungan total aset lancar konsolidasian Perseroan (USD989.431.528) dikurangi total liabilitas jangka pendek konsolidasian Perseroan (sebesar USD2.910.570.163)); dan

2. Rasio total kewajiban konsolidasi (sebesar USD3.573.120.274) terhadap total aset konsolidasi Perseroan (sebesar USD4.460.706.322) adalah sebesar 80,1% atau melebihi 80%.

BUMI belum mengungkapkan pihak yang akan menyerap rights issue. Namun, perusahaan telah memberikan ‘kisi-kisi’ terhadap status pemodal tersebut.

Baca juga: Apa itu Private Placement? Berikut Penjelasannya

Menurut prospektus, pemodal adalah suatu badan hukum yang akan melakukan penyetoran modal kepada Perseroan melalui PMTHMETD (“Pemodal”). Pemodal memiliki hubungan afiliasi dengan Perseroan, karena Pemodal merupakan pihak terafiliasi dari pemegang saham pengendali Perseroan.

Kendati BUMI berhasil mencatatkan kinerja keuangan yang baik pada semester I-2022, akan tetapi modal kerja perseroan masih negatif dan rasio utangnya tinggi. Apabila mengacu pada laporan keuangan audit Juni 2022, BUMI mencatatkan modal kerja bersih negatif US$ 1,92 miliar.

Angka tersebut diperoleh dari jumlah aset lancar konsolidasian perseroan sebesar US$ 989,4 juta dikurangi dengan liabilitas jangka pendek konsolidasian perseroan sebesar US$ 2,91 miliar.

Adapun rasio total kewajiban konsolidasi perseroan mencapai 80,1% atau lebih dari 80% sehingga perseroan bermaksud menambah modal melalui PP guna memperbaiki struktur permodalan.

Emiten tambang batu bara yang terafiliasi dengan Grup Bakrie ini baru saja merilis laporan keuangan semesterannya pada 31 Agustus lalu.

BUMI berhasil membukukan pendapatan sebesar US$ 968,7 juta atau setara dengan Rp 14,3 triliun pada semester I-2022 (asumsi kurs Rp 14.800/US$). Pendapatan BUMI naik 129,6% dari periode yang sama tahun lalu.

Laba bruto perseroan naik 166,7% menjadi US$ 213,7 juta (Rp 3,2 triliun) dan laba usahanya melesat 216,4% menjadi US$ 157,1 juta (Rp 2,2 triliun).

Kemampuan BUMI untuk menjaga efisiensi beban biaya dan meningkatkan marjin membuat laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai US$ 167,7 juta (Rp 2,5 triliun).

 

Sumber

Baca juga: Saham BUMI Bergerak Naik, Diprediksi Terus Menguat