Obligasi Bitcoin El Salvador Alami Penundaan Penerbitan, Berikut Penyebabnya!

Penawaran obligasi yang didukung oleh Bitcoin, atau yang disebut Volcano Bond El Salvador terus menghadapi penundaan. Hal itu karena kurangnya minat investor dan regulasi yang belum selesai.

Presiden El Salvador, Najib Bukele mengumumkan rencana untuk mengumpulkan $1 miliar melalui obligasi yang didukung oleh bitcoin (BTC) pada November 2021. Itu tak lama setelah El Salvador menjadi negara pertama di dunia yang mengadopsi bitcoin sebagai alat pembayaran yang sah.

Penawaran ini seharusnya diluncurkan pada awal 2022, tetapi telah menghadapi penundaan, setidaknya sebagian penundaan karena anjloknya harga bitcoin. Di sisi lain, Kongres El Salvador juga harus meloloskan undang-undang yang diperlukan untuk penerbitan obligasi.

Chief Technology Officer, Tether Paolo Ardoino yang telah bekerja sama dengan El Salvador dalam proyek bitcoin mengatakan pejabat pemerintah telah memberitahunya untuk mengharapkan pengesahan peraturan pada September 2022.

Jika itu terjadi, kata Ardoino, dia akan mengharapkan dua hingga tiga bulan lagi sebagai waktu yang cukup untuk meluncurkan Volcano Bond, menunjukkan penjualan bisa dilakukan sebelum akhir 2022.

Sebelumnya pada Februari 2022 Menteri Keuangan El Salvador, Alejandro Zelaya mengatakan penerbitan obligasi akan berlangsung antara 15 Maret dan 20 Maret 2022 tetapi beberapa minggu kemudian menunda karena pecahnya perang antara Ukraina dan Rusia.

“Kami memiliki alat yang hampir selesai, tetapi konteks internasional akan memberi tahu kami,” kata Zelaya saat itu, dikutip dari CoinDesk, Rabu (31/8/2022).

Baca juga: El Salvador Membeli 150 BTC Pada Saat Penurunan Kemarin

Sejak September 2021 lalu hingga saat ini, El Salvador telah mengakuisisi 2.301 bitcoin dengan harga sekitar USD 103,9 juta, atau setara Rp 1,5 triliun menurut pengumuman yang dikumpulkan dari Bukele.

Bitcoin tersebut bernilai sekitar USD 45 juta saat ini. Pembelian terbaru terjadi pada 30 Juli, ketika negara tersebut membeli 80 koin dengan harga masing-masing USD 19.000.

Sebelumnya, tidak terpengaruh oleh kerugian besar yang ditimbulkan oleh strateginya menggunakan dana publik untuk berinvestasi di Bitcoin, Presiden El Salvador, Nayib Bukele mengumumkan dia menghabiskan USD 1,5 juta atau sekitar Rp 22,4 miliar lagi untuk membeli 80 BTC dengan harga USD 19.000 per koin.

“El Salvador membeli hari ini 80 BTC seharga USD 19.000 masing-masing. Bitcoin adalah masa depan, terima kasih telah menjual dengan harga murah,” kata Bukele dalam sebuah cuitan di Twitter, dikutip dari Decrypt, Selasa (5/7/2022).

Menurut tweetnya sendiri, sebelum pengumuman terbarunya ini, Bukele telah menginvestasikan sekitar USD 104 juta untuk membeli 2.301 bitcoin dengan harga rata-rata USD 45.171.

Kemarin, ketika Bitcoin turun menjadi USD 19.000, simpanan Bitcoin El Salvador bernilai USD 43.719.000, menyiratkan kerugian bagi negara sekitar USD 60,2 juta. Dengan pembelian terbaru ini, Bukele akan menurunkan harga rata-rata yang diinvestasikan per Bitcoin dari USD 45.171 menjadi USD 44.219.

Strategi mengumpulkan Bitcoin setelah penurunan besar-besaran juga telah direplikasi oleh investor Bitcoin jangka panjang optimis lainnya. CEO MicroStrategy, Michael Saylor, baru-baru ini mengumumkan pembelian Bitcoin baru senilai USD 10 juta, membawa perbendaharaan perusahaannya menjadi 129.699 BTC dengan harga rata-rata USD 30.664.

 

Sumber

Baca juga: ATM Bitcoin Dibakar Oleh Warga El Salvador “Bitcoin Tidak Menguntungkan Kami”