Industri penerbangan Rusia sedang berada dalam posisi yang kurang menguntungkan. Sejumlah maskapai Rusia terancam tak bisa lagi terbang karena kekurangan suku cadang. Kondisi ini terjadi sebagai imbas dari sanksi berat yang dijatuhkan sejumlah negara atas perang yang dimulai Moskow di Ukraina.

Sanksi yang dijatuhkan Amerika Serikat dan Uni Eropa membuat dua produsen pesawat besar dunia, Boeing (BA) dan Airbus (EADSF), tidak lagi dapat memasok suku cadang atau memberikan layanan perawatan bagi maskapai Rusia. Hal yang sama berlaku untuk pembuat mesin jet. Ini berarti maskapai Rusia bisa kehabisan suku cadang yang diperlukan dalam hitungan minggu.

Meski tetap dapat terbang, pesawat Rusia tak bisa mengganti suku cadangnya sebagaimana yang direkomendasikan agar pesawat beroperasi dengan aman.

“Prioritas pemerintah Rusia tidak termasuk keselamatan dan keandalan konsumen,” kata Wakil Direktur GeoEconomics Center di Atlantic Council, Charles Lichfield, dikutip CNN Internasional, Minggu (13/3/2022).

Maskapai besar Rusia, Aeroflot, tak lagi menjalin hubungan bisnis dengan Sabre, yang menyediakan sistem sehingga maskapai dapat memesan tiket dengan mudah. Di samping itu, perusahaan penyewaan pesawat, yang memiliki sekitar 80% dari hampir 900 pesawat komersial di Rusia, telah diperintahkan untuk mengambil alih pesawat tersebut pada akhir bulan ini. Menurut data dari perusahaan analisis penerbangan Cirium, pesawat-pesawat yang disewa itu memiliki nilai sebesar USD13,3 miliar.

Baca juga: Garuda Indonesia Disuntik Pinjaman Rp 1 Triliun! Apa Dampaknya?

Kondisi ini diprediksi bakal menimbulkan masalah serius bagi kegiatan ekonomi Rusia secara keseluruhan. Menurut Lichfield, Rusia butuh industri penerbangan yang layak untuk menjaga ekonominya tetap berjalan.

“Warga Rusia tidak terbang sebanyak  wargaAmerika. Mereka tidak terbang ke Siberia untuk berlibur. Tetapi industri penerbangan merupakan mata rantai penting bagi bisnis. Tidak hanya untuk penerbangan internasional, tetapi juga untuk layanan domestik untuk sektor energi. Karena dibutuhkan untuk mengangkut insinyur, pekerja, dan peralatan lain ke dan dari ladang minyaknya yang jauh,” ujar dia.

Di sisi lain, otoritas Rusia mengumumkan rencana undang-undang baru yang akan memblokir pesawat-pesawat itu meninggalkan Rusia. Namun kata Analis Kredit Standard & Poor’s Betsy Snyder, hal ini akan membawa situasi bagi maskapainya untuk menyewa pesawat di masa mendatang setelah sanksi berakhir.

Menurut dia, akan lebih mudah bagi industri penerbangan global untuk beroperasi tanpa Rusia yang hanya menyumbang sekitar 1% dari total pembelian jet komersial daripada sebaliknya. Upaya Rusia membangun jet komersialnya pun menghasilkan pesawat dengan keamanan yang dipertanyakan  dan kemungkinan tidak menemukan pembeli di pasar internasional.

 

Sumber

Baca juga: Penjualan Masif Saham Maskapai Penerbangan AS

Tags: