The Fed Makin Agresif karena Inflasi

Pasar modal bergerak searah kemarin, dengan koreksi pasar saham, obligasi dan rupiah menjelang kian agresifnya kebijakan moneter ketat di Amerika Serikat (AS). Pasar modal bergerak searah kemarin, dengan koreksi pasar saham, obligasi dan rupiah menjelang kian agresifnya kebijakan moneter ketat di Amerika Serikat (AS).

Harga mayoritas obligasi pemerintah atau Surat Berharga Negara (SBN) ditutup melemah di tengah sikap bank sentral Amerika Serikat (AS) yang semakin agresif untuk mengekang inflasi agar tidak kembali meninggi.

Mayoritas investor cenderung melepas SBN, ditandai dengan naiknya imbal hasil (yield). Hanya SBN bertenor 3 tahun dan 20 tahun yang masih ramai diburu oleh investor. Yield SBN bertenor 3 tahun turun 1,2 basis poin (bp) ke 3,622%, sedangkan yield SBN berjatuh tempo 20 tahun melemah 1,4 bp ke 7,2%.

Baca juga: Harga Obligasi Melemah karena The Fed Berpotensi Makin

Sementara itu, yield SBN bertenor 10 tahun yang merupakan SBN acuan negara berbalik menguat 3,1 bp ke 6,78% pada perdagangan hari ini.Yield berlawanan arah dari harga, sehingga naiknya yield menunjukkan harga obligasi yang sedang melemah, demikian juga sebaliknya. Satuan penghitungan basis poin setara dengan 1/100 dari 1%.

Aksi jual di pasar obligasi bersamaan dengan koreksi saham mengonfirmasi bahwa investor sedang cemas untuk memegang aset berisiko. Dalam situasi normal, pelemahan yield di pasar obligasi menunjukkan bahwa mereka ingin mengejar keuntungan lebih besar di pasar saham karena yakin kondisi ekonomi aman-aman saja.

Di tengah situasi demikian, nilai tukar rupiah menghentikan penguatan 3 hari beruntun terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang sedang kuat-kuatnya karena suku bunga acuan AS yang meninggi.

Melansir data Refinitiv, rupiah membuka perdagangan dengan melemah 0,03% ke Rp 14.350/US$. Sepanjang hari Mata Uang Garuda tidak pernah mencicipi zona hijau, malah sempat tertekan hingga ke Rp 14.373/US$.

Pada penutupan perdagangan, rupiah berada di Rp 14.355/US$, atau melemah 0,07% di pasar spot. Tidak hanya rupiah semua mata uang utama Asia hari ini berguguran.

 

Sumber

Baca juga: Harga SBN Menguat Meski Inversi Yield Treasury Masih Terjadi

Tags: