Harga Obligasi Melemah, Apa Penyebabnya?

Harga mayoritas obligasi pemerintah atau Surat Berharga Negara (SBN) kembali ditutup melemah pada perdagangan Rabu (23/3/2022). Hal itu terjadi di tengah cenderung beragamnya sentimen pasar pada hari ini.

Mayoritas investor kembali cenderung melepas SBN pada hari ini, ditandai dengan naiknya imbal hasil (yield). Hanya SBN bertenor 3 dan 30 tahun yang ramai diburu oleh investor, ditandai dengan turunnya yield dan penguatan harga.

Melansir data dari Refinitiv, yield SBN bertenor 3 tahun turun sebesar 1,4 basis poin (bp) ke level 3,736%. Sedangkan yield SBN berjatuh tempo 30 tahun melemah 1,7 bp ke level 6,975%.

Sementara yield SBN bertenor 10 tahun yang merupakan SBN acuan negara kembali menguat 1,1 bp ke level 6,741% hari ini.

Yield berlawanan arah dari harga, sehingga naiknya yield menunjukkan harga obligasi yang sedang melemah, demikian juga sebaliknya. Satuan penghitungan basis poin setara dengan 1/100 dari 1%.

Selera risiko investor semakin pulih, ditandai dengan cerahnya pasar saham Asia-Pasifik. Meski di pasar saham dalam negeri pada hari ini melemah tipis.

Meski selera risiko semakin pulih, tetapi investor pada hari ini masih berfokus pada perkembangan perang Rusia-Ukraina dan evaluasi terhadap potensi semakin agresifnya bank sentral Amerika Serikat (AS).

Di AS, investor kembali memburu obligasi pemerintah pada hari ini, di tengah kekhawatiran tentang perang Rusia-Ukraina yang belum mereda dan sudah berlangsung hampir sebulan serta inflasi global yang meningggi.

Dilansir dari CNBC International, yield obligasi pemerintah AS (Treasury) bertenor 10 tahun cenderung turun 0,7 bp ke level 2,37% pada pukul 07:00 waktu setempat. Dari sebelumnya pada penutupan perdagangan Selasa kemarin di level 2,377%.

Baca juga: Mengenal Istilah Yield Chasing di Pasar Keuangan

Yield Treasury bertenor 10 tahun sempat melonjak pada Senin dan Selasa pekan ini. Yaitu ketika Ketua bank sentral AS, Jerome Powell memberikan nada hawkish ketika membahas bagaimana The Fed akan memerangi inflasi.

Powell mengatakan akan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk mengendalikan inflasi yang masih meninggi.

“Jika kami menyimpulkan bahwa pantas untuk bergerak lebih agresif dengan menaikkan suku bunga federal fund lebih dari 25 basis poin pada tiap pertemuan, kami akan melakukannya,” kata Powell pada hari Senin kepada National Association for Business Economics.

Investor bertaruh bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga acuan lebih cepat dari yang diperkirakan pada pekan lalu.

Sementara itu dari seputaran perang Rusia-Ukraina beserta negara Barat, di mana Presiden AS, Joe Biden dijadwalkan akan menggelar pertemuan dengan anggota North Atlantic Treaty Organization (NATO) dengan pemimpin G-7 dan berpidato di depan para pemimpin Uni Eropa pada pertemuan Dewan Eropa Kamis besok.

Penasihat Keamanan Nasional AS, Jake Sullivan mengatakan bahwa Biden dan negara-negara Eropa akan mengumumkan sanksi terbaru terhadap Rusia dan langkah-langkah baru untuk memperketat sanksi yang telah ada.

Di lain sisi, Biden menilai bahwa Rusia sedang “terbentur tembok”, karena perang dengan Ukraina menurut dia “mendekati jalan buntu”.

 

Sumber

Baca juga: Dampak ‘Tapering’ The Fed terhadap Pasar