Aset Kripto Berbahaya Menurut Bank Sentral Singapura?

Regulator keuangan utama Singapura mengatakan kripto “sangat berbahaya” bagi banyak investor. Akan tetapi, regulator juga menjelaskan bahwa Singapura masih ingin mengembangkan dan secara aktif mempromosikan ekosistem aset digital.

Singapura berencana untuk meluncurkan peraturan baru yang akan mempersulit investor ritel untuk memperdagangkan mata uang kripto.

Ravi Menon, direktur pelaksana Otoritas Moneter Singapura (MAS), bank sentral negara tersebut, pada hari Senin mengkritik perdagangan mata uang kripto yang dilakukan oleh investor ritel. Dia mengatakan mata uang kripto tidak memiliki kualitas fundamental uang dan tidak menawarkan kegunaan di luar jaringan blockchain – melainkan hanya untuk spekulasi.

Singapura sebelumnya telah membuka pintu bagi platform perdagangan, pialang, dan pemberi pinjaman kripto untuk mengajukan lisensi di negara tersebut. Tetapi kini malah berjuang untuk melindungi reputasinya setelah keruntuhan beberapa pemain kripto besar yang berbasis di negara-kota tersebut.

Hantaman besar di pasar kripto baru-baru ini menyebabkan lenyapnya sekitar US$ 2 triliun valuasi di pasar global. Kegagalan stablecoin algoritmik TerraUSD dan bangkrutnya hedge fund Three Arrows Capital membuat Singapura menjadi sorotan global.

Terraform Labs Pte., entitas di balik stablecoin, terdaftar di Singapura dan Three Arrows berbasis di sana selama bertahun-tahun. Meski demikian, Terraform tidak dilisensikan di Singapura dan Three Arrows tidak terdaftar sebagai penyedia layanan aset digital.

Baca juga: Pasar Saham Singapura Terseok Hadapi Pandemi

Perusahaan perdagangan kripto Zipmex dan pemberi pinjaman kripto Hodlnaut, baru-baru ini juga mengalami masalah keuangan. Keduanya berbasis di Singapura.

Menon mengakui bahwa pesan regulator yang menginginkan Singapura menjadi pusat teknologi keuangan yang inovatif sembari tetap mempertahankan proses perizinan yang lambat dan ketat untuk perusahaan kripto, mungkin akan menimbulkan kebingungan bagi sejumlah pihak. Namun dia menyebut kedua hal tersebut tidak kontradiktif.

“Postur fasilitatif MAS pada aktivitas aset digital dan sikap membatasi spekulasi cryptocurrency tidak saling bertentangan,” kata Menon, dilansir CNBC Internasional.

Pusat keuangan Asia Tenggara tersebut ingin mengembangkan aspek lain dari teknologi blockchain dan aset digital yang terpisah dari mata uang kripto, kata Menon. Dia menambahkan bahwa sumber bisnis baru yang paling menjanjikan untuk Singapura termasuk mempercepat pembayaran lintas batas dan penyelesaian transaksi efek.

Menon mengatakan dia juga melihat potensi inovasi dalam tokenization, proses mengubah hak kepemilikan menjadi token digital. Ini bisa berlaku untuk aset keuangan seperti uang tunai dan obligasi serta aset tidak berwujud seperti kredit karbon, katanya.

Singapura melarang iklan untuk perdagangan kripto awal tahun ini, dan regulator mengatakan sedang mempertimbangkan langkah-langkah lebih lanjut untuk melindungi konsumen. Akan tetapi regulator juga menyadari bahwa melarang investasi ritel di kripto tidak akan berhasil karena sifatnya yang tanpa batas. Regulator belum mengatakan bagaimana rencananya untuk mengatasi kegagalan dari perusahaan kripto yang didirikan di negara tersebut.

 

Sumber

Baca juga: Mengenal Istilah Yield Chasing di Pasar Keuangan