IHSG Sentuh All-Time High Baru?

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 0,66% pada perdagangan kemarin, Selasa (22/3/2022). IHSG berakhir di level psikologis 7.000,8.

Dengan kinerjanya tersebut, maka IHSG resmi kembali mencetak rekor penutupan tertingginya di sepanjang sejarah pasar saham domestik.

Bersamaan dengan kinerja IHSG yang moncer, mayoritas bursa saham Asia juga ditutup di zona hijau kemarin. Indeks Hang Seng melesat 3,15% dan menjadi jawara Asia.

Di posisi kedua ada indeks Nikkei 225 Jepang yang terbang 1,48% dan disusul oleh indeks Sensex India yang terapresiasi 0,91% sebagai jawara ketiga.

Kendati kinerja bursa kawasan Eropa mengalami penguatan, yield obligasi pemerintah AS (US Treasury) juga ikut naik.

Kenaikan yield US Treasury menandakan bahwa harganya sedang terkoreksi. Naiknya yield atau imbal hasil dipicu oleh pernyataan bos The Fed Jerome Powell.

Dalam pidatonya di hadapan National Association for Business Economics, Powell mengatakan inflasi di Amerika Serikat terlalu tinggi dan bisa membahayakan pemulihan ekonomi.

Powell menegaskan akan terus menaikkan suku bunga sampai inflasi bisa terkendali, bahkan tidak menutup kemungkinan kenaikan sebesar 50 basis poin.

Bagaimanapun juga, inflasi, kebijakan moneter serta perkembangan perang antara Rusia dan Ukraina akan tetap menjadi sorotan utama pelaku pasar saat ini.

Lantas dengan perkembangan yang ada, bagaimana prospek IHSG untuk perdagangan hari ini? Berikut analisis teknikalnya.

Baca juga: Osmosis (OSMO) Sentuh All-Time High Baru, Berikut Alasannya

Analisis Teknikal

Pergerakan IHSG dianalisis berdasarkan periode harian (daily) dan menggunakan indikator Bollinger Band (BB) untuk menentukan area batas atas (resistance) dan batas bawah (support).

Jika melihat level penutupan IHSG pekan lalu dan indikator BB, tampak bahwa indeks bergerak mendekati level resisten terdekat di 7.013.

Pergerakan IHSG juga dilihat dengan indikator teknikal lain yaitu Relative Strength Index (RSI) yang mengukur momentum.

Perlu diketahui, RSI merupakan indikator momentum yang membandingkan antara besaran kenaikan dan penurunan harga terkini dalam suatu periode waktu.

Indikator RSI berfungsi untuk mendeteksi kondisi jenuh beli (overbought) di atas level 70-80 dan jenuh jual (oversold) di bawah level 30-20.

RSI cenderung bergerak naik kemarin ke level 61,29. Namun RSI masih belum menunjukkan tanda berada di level jenuh beli (overbought).

Apabila menggunakan indikator teknikal lain yakni Moving Average Convergence Divergence (MACD), tampak garis EMA 12 dan garis EMA 26 masih bergerak berimpit.

Di sisi lain bar histogram MACD meski berada di teritori positif namun pergerakannya terbatas.

Jika melihat indikator teknikal maka ada peluang IHSG bisa menguat. Indeks kembali berpotensi menguji level 6.912-7.013 untuk hari ini.

Indeks perlu melewati (break) salah satu level resistance atau support, untuk melihat arah pergerakan selanjutnya.

 

Sumber

Baca juga: Akankah Crypto Jadi Mata Uang Cadangan Dunia?