Stablecoin Tether (USDT) terlihat seperti menutup mata terhadap permintaan pemerintah Ukraina untuk menghentikan semua transaksi dengan Rusia.

Wakil Perdana Menteri Ukraina, Mykhailo Fedorov meminta Tether dan Chief Technology Officer Paolo Ardoino untuk menghentikan semua transaksi dengan Rusia. Ia menyampaikan hal itu melalui Twitter pada Jumat, 11 Maret 2022.

Sebelumnya, Fedorov telah mengeluarkan permohonan semacam itu kepada banyak perusahaan barat. Mulai dari perangkat lunak SAP SE hingga produsen cho Intel Corp. Pada awal perang, Fedorov juga meminta semua bursa kripto utama untuk berhenti mendukung pengguna Rusia. Pihak Tether secara tidak langsung menanggapi permintaan Fedorov.

“Tether melakukan pemantauan pasar secara konstan untuk memastikan tidak ada pergerakan atau tindakan tidak teratur yang mungkin bertentangan dengan sanksi internasional,” ujar perusahaan yang berbasis di British Virgin dikutip dari laman Yahoo Finance, Minggu (13/3/2022).

Tether bukan satu-satunya perusahaan kripto yang menolak untuk berhenti berbisnis dengan semua orang Rusia. Sebagian besar bursa kripto utama termausk Coinbase dan Kraken mengatakan sementara akan mematuhi sanksi yang dikenakan pada oligarki Rusia. Hal itu bertentangan dengan semangat kripto yang bebas dari campur tangan pemerintah.

Selain itu, tether telah lama digunakan di seluruh dunia untuk pelarian modal dan berpotensi digunakan orang Rusia untuk mengambil uang ke luar negeri dan akhirnya memindahkan ke kripto lain seperti bitcoin.

Aliran dana ke bitcoin dari rubel telah meningkat menjadi 0,10 persen dari 0,02 persen pada akhir tahun lalu, menurut peneliti CryptoCompare. Menurut data perusahaan analisis Kaiko menyebutkan, mayoritas volume perdagangan kripto dengan tether dilakukan dalam mata uang rubel.

Baca juga: Stablecoin Tether Mencapai Kapitalisasi Pasar $19 miliar

Di sisi lain, Departemen Cyberpolice dari Kepolisian Nasional Ukraina telah bergabung dengan pemerintah di Kyiv dan LSM Ukraina. Mereka mencoba mendapatkan dana melalui kripto di tengah invasi militer Rusia.

Unit tersebut baru-baru ini memposting pengumuman di situs webnya yang meminta bantuan amal dalam bentuk koin digital.

“Juga, orang yang ingin mendukung Ukraina di masa sulit ini dapat menghubungkan peralatan penambangan mereka atau sebagiannya ke dompet Ethereum dan Bitcoin ini,” isi pengumuman tersebut, dikutip dari Bitcoin.com, Minggu (13/3/2022).

Lembaga itu telah menerbitkan beberapa alamat kripto dan saat ini menerima sumbangan dalam Bitcoin (BTC), Ether (ETH), Tether (USDT), Tron (TRX), Poligon (MATIC), dan BNB.

Kripto yang terkumpul akan digunakan untuk mendukung Polisi Nasional, Garda Nasional, Layanan Penjaga Perbatasan Negara, dan Layanan Darurat Negara. Uang digital juga akan digunakan untuk pembelian obat-obatan, kebutuhan pokok lainnya, dan untuk memberikan perawatan medis bagi para korban permusuhan dengan Rusia.

 

Sumber

Baca juga: Tether Diprediksi Menjadi Mata Uang Kripto Terbesar Kedua di Dunia

Tags: