Untuk mendongkrak kinerja tahun ini PT PP Presisi Tbk (PPRE) telah menyiapkan capex sebesar Rp 336 miliar. Menurut Direktur PPRE, Benny Pidakso belanja modal mayoritas akan disalurkan pada penambahan alat berat.

PPRE Tambahan Modal

Adapun, sampai akhir tahun lalu, PPRE memiliki alat berat sebanyak 2.816 unit. Sebelumnya PPRE baru saja mendapatkan kontrak baru senilai Rp 200 miliar. Kontrak ini berupa pembangunan infrastruktur tambang pada area pertambangan nikel Weda Bay.

Menurut Rully Noviandar, Direktur Utama PPRE lokasi ini menjadi salah satu tambang nikel terbesar di Indonesia yang berlokasi di Halmahera. Lokasi ini juga merupakan perluasan dari pembangunan jalan hauling yang sedang dilakukan.

Ia menambahkan, perluasan kontrak tersebut merupakan bentuk kepercayaan kepada PPRE pada time delivery dan quality delivery serta value added yang diberikan kepada setiap konsumen. Tak hanya itu, dengan adanya perluasan scope of work, maka total kontrak yang PPRE dapatkan dari proyek pembangunan infrastruktur tambang nikel tersebut meningkat menjadi lebih dari Rp 200 miliar.

Nilai ini berkontribusi pada total perolehan kontrak baru hingga akhir April menjadi sebesar Rp933 miliar, atau mencapai 25% dari total target kontrak baru sebesar Rp3,7 triliun.

Rencana Perusahaan

Selain berhasil menggarap infrastruktur tambang pada area pertambangan nikel Weda Bay yang menyumbang nilai kontrak sebesar Rp933 miliar itu, PPRE tahun ini akan fokus pada proyek di sektor pertambangan. Pihaknya melihat banyak peluang yang diambil dari lini tersebut.

Hal ini termasuk proyek pekerjaan  overburden removal  sampai  resource hauling  atau pengangkutan. Kontrak pada proyek nikel yang bersifat panjang ini berpotensi untuk menjadi penyokong pendapatan berulang ( supporting reccuring income) untuk perseroan.

Baca juga: RUPST TLKM, Siap Tebar Dividen Triliunan di 28 Mei

Sebagai gambaran, Benny memaparkan dari jasa pertambangan nikel yang ada di Morowali, kontraknya adalah sebesar Rp 700 miliar. Kontrak tersebut adalah kontrak selama 3 tahun pertama.

Tak hanya itu, pihaknya juga melihat volume potensi pekerjaan untuk nikel. Volume terlihat di Sulawesi Selatan hingga Sulawesi Utara sebanyak 2 juta – 4,5 juta ton per tahun.

Sementara itu segmen batu bara di Kalimantan Timur dan Sumatera Selatan, pengangkutan bisa sebanyak 11,8 juta ton per tahun dan bauksit di Kalimantan Barat sebanyak 2,5 juta ton per tahun.

Dilansir dari IPOT News

Tags: