Mayoritas investor yang baru saja terjun ke dunia crypto belum mengetahui bahwa terdapat dua jenis bursa crypto yang dapat digunakan dalam melakukan transaksi. Hal ini disebabkan pada umumnya bursa tersebut tidak memberi tahu di awal akibat asumsi investor sudah mengetahui sebelum membuka rekening.

Oleh karena itu, perlu edukasi yang lebih dalam sebelum investor membuka rekening crypto masing-masing. Hal ini disebabkan kemungkinan besar bursa atau platform yang digunakan akan terus digunakan seumur hidup, jadi sebelum menggunakan ada baiknya diperdalami terlebih dahulu.

Mengenal Perbedaan Bursa Crypto

Dalam dunia crypto, terdapat dua jenis bursa atau platform yang dapat digunakan yaitu bursa tersentralisasi dan juga bursa terdesentralisasi. Walau umumnya kegunaannya sama yaitu untuk transaksi mata uang crypto, terdapat perbedaan spesifik yang menjadi pembeda dalam keamanan dan sistem.

Untuk bursa tersentralisasi, perbedaan utamanya adalah kelibatan pihak ketiga dalam menjalankan operasionalnya. Layaknya bursa atau platform perdagangan aset lainnya seperti saham, bursa tersentralisasi menggunakan pihak ketiga untuk menjamin transaksi benar terjadi.

Umumnya dalam bursa tersentralisasi terdapat beberapa langkah verifikasi untuk memastikan bahwa pengguna sesuai dengan persyaratan dari bursa tersebut. Selain itu, umumnya pada bursa tersentralisasi, pilihan aset crypto yang diperdagangkan sudah ditetapkan secara resmi dan tidak diperdagangkan langsung pada blockchain.

Hal tersebut menjadi perbedaan utama dengan bursa terdesentralisasi, dimana perdagangan tidak melibatkan pihak ketiga dan transaksi langsung terjadi di blockchain. Sistem ini mempermudah transaksi untuk terjadi juga akibat tidak memerlukan verifikasi dari pihak ketiga.

Perbedaan Kecil Lainnya

Secara keseluruhan, perbedaan dari kedua jenis bursa tersebut terletak pada beberapa hal yang sudah dijelaskan. Namun, terdapat beberapa perbedaan kecil lainnya yang juga menjadi pengukuran keuntungan dan kerugian menggunakan kedua bursa.

Bursa tersentralisasi umumnya memberikan kuasa yang lebih kecil dari bursa terdesentralisasi akibat adanya pihak ketiga dalam transaksi. Selain itu, bursa tersentralisasi juga memberikan risiko peretasan yang lebih tinggi, akibat tidak menggunakan blockchain dan menggunakan sistem khusus sendiri.

Tetapi secara ketenaran, bursa tersentralisasi lebih sering digunakan daripada bursa terdesentralisasi, seperti layaknya di Amerika dan Indonesia. Selain itu bursa ini juga memiliki fitur yang lebih banyak akibat tidak hanya berdasarkan dari transaksi di blockchain.

Baca juga: Grayscale Beli 4.618 Bitcoin, Penyebab Utama Apresiasi Harga?

Namun kerugian dari bursa tersentralisasi adalah walau transaksinya lebih cepat, terdapat biaya tambahan akibat penggunaan platform atau bursanya. Tetapi, dengan bursa ini likuiditas menjadi lebih tinggi, dan untungnya bagi pemerintah, bursa jenis ini lebih mudah diregulasi.

Saat ini bursa tersentralisasi masih lebih banyak daripada bursa terdesentralisasi akibat kemudahan penggunaannya dimana bursa terdesentralisasi langsung berhubungan dengan blockchain. Sehingga terkadang, transaksi menjadi lebih rumit, oleh karena itu, investor wajib mengetahui perbedaannya agar transaksi dapat lebih nyaman.