Indeks saham dan harga saham utama Asia-Pasifik mengakhiri pekan dengan penurunan. Tetapi terjadi pengecualian dalam pasar Australia yang membukukan kenaikan marjinal. Harga saham terutama terbebani karena memburuknya hubungan AS dan Tiongkok. Hal ini menambah ketidakpastian mengenai seberapa cepat ekonomi dapat pulih setelah keluar dari lockdown.

Kekhawatiran tentang konfrontasi antara dua ekonomi terbesar di dunia melampaui data ekonomi China. Data tersebut menunjukkan ekonominya secara bertahap pulih dari guncangan wabah virus corona.

Investor juga mengatakan bahwa optimisme dari pembukaan kembali ekonomi juga telah dirusak oleh kekhawatiran gelombang kedua infeksi. Hal ini mendorong pengambilan keuntungan. Selain itu, peringatan Ketua Fed Powell tentang kemungkinan resesi yang lebih dalam dan lebih lama tanpa stimulus fiskal kian mengurangi riks appetite.

Pekan lalu, Indeks Nikkei 225 Jepang ditutup pada 20037,47, turun 141,62 atau -0,70%. KOSPI Korea Selatan selesai pada 1927.28, turun 18,54 atau -0,95% . Begitu juga dengan Hong Kong Hang Seng ditutup pada 23797,47, turun 432,70 atau -1,79%.

Indeks Shanghai China ditutup pada 2868,46, turun 26,88 atau -0,93%. Sedangkan Indeks S & P / ASX 200 Australia berakhir pada 5404,80, naik 13,70 atau + 0,25%.

Baca juga: Saham Kawasan Asia Meningkat Melebihi Ekspektasi

Kekhawatiran Analis Terkait Ketegangan Antara AS dan Tiongkok

Sementara banyak analis menganggap penurunan pekan lalu sebagai koreksi alami setelah reli spektakuler sejak pertengahan Maret. Mereka justru menjadi semakin khawatir tentang meningkatnya ketegangan hubungan AS dan Tiongkok. Presiden AS Donald Trump menyalahkan China atas penanganan penyakit COVID-19 yang telah menewaskan lebih dari 85.000 orang Amerika.

Trump mengisyaratkan kemunduran lebih lanjut dalam hubungan US dengan China. Ia mengatakan dia tidak tertarik berbicara dengan Presiden Xi Jinping sekarang.

Presiden melanjutkan bahwa dia bahkan dapat memutuskan hubungan dengan ekonomi terbesar kedua di dunia itu. Sehari setelah dana pensiun federal A.S. menunda investasi dalam saham Tiongkok di tengah tekanan dari Gedung Putih

Langkah ini memperparah kekhawatiran konfrontasi antara Washington dan Beijing bisa meningkat di luar perdagangan menuju perekonomian dan bidang lainnya.

Pada hari Jumat, pemerintahan Trump bergerak untuk memblokir pasokan chip global ke perusahaan peralatan telekomunikasi yang masuk daftar hitam Huawei Technologies. Keputusan ini memicu kekhawatiran pembalasan Tiongkok dan menempa saham produsen peralatan pembuat chip AS.

Tingkat Inflasi Tiongkok Tak Sesuai Ekspektasi

Inflasi Tiongkok untuk bulan April yang dirilis oleh Biro Statistik Nasional negara tersebut tidak sesuai harapan. Indeks harga konsumen untuk April naik 3,3% year-on-year, dibandingkan ekspektasi kenaikan 3,7% dalam jajak pendapat Reuters. Sementara itu, indeks harga produsen China untuk bulan April turun 3,1% year-on-year, dibandingkan dengan penurunan 2,6% yang diharapkan.

Output industri Tiongkok pada bulan April naik 3,9% dari tahun sebelumnya. Angka ini melebihi ekspektasi untuk kenaikan 1,5% dan berkembang untuk pertama kalinya tahun ini. Peningkatan ini lantaran perekonomiannya perlahan-lahan bangkit dari lockdown virus corona. Namun penjualan ritel tetap lemah karena tingkat pengangguran meningkat.

Pendapatan Toyota Menurun

Dalam pendapatan perusahaan, produsen mobil Jepang, Toyota, mencatatkan penurunan pendapatan operasionalnya sebesar 1% YoY untuk tahun fiskal 2020. Secara khusus, perusahaan juga memperkirakan 79,5% year-on-year terjun dalam pendapatan operasionalnya untuk tahun fiskal 2021.

Selain itu, investor asing menjual saham Jepang setiap minggu dalam 3 bulan terakhir. Investor asing menjual 133,9 miliar yen ($ 1,25 miliar) bersih saham Tokyo pekan lalu. Data dari Japan Exchange Group menunjukkan pada hari Kamis, menandai penjualan minggu ke-13 berturut-turut.

Tags: