BUMI atau PT Bumi Resources Tbk mencatatkan pendapatan US$ 191,254 juta pada kuartal I-2021, turun dibandingkan periode yang sama 2020 senilai US$ 257,34 juta. Dari perolehan pendapatan ini perusahaan mencatatkan laba usaha senilai US$ 12,44 juta naik 516% dibandingkan periode yang sama tahun lalu US$ 2,02 juta.

Sementara dari sisi total aset BUMI tercatat US$ 3,41 miliar. Dari sisi liabilitas pada kuartal I-2021 tercatat US$ 3,29 miliar. Hal ini pun membuat BUMI mengalami kerugian tahun berjalan US$ 10,02 juta pada kuartal I-2021, kerugian ini menurun 70% dibandingkan kuartal I-2020 senilai US$ 34,85 juta.

Direktur dan Sekretaris Perusahaan Dileep Srivastava mengatakan tahun ini menjadi optimisme sektor batu bara dengan tren kenaikan harga yang diperkirakan bertahan. Kenaikan harga juga disebabkan karena produksi di Australia, Indonesia, dan China terpengaruh oleh pandemi.

“Permintaan, bagaimanapun diperkirakan akan naik da harga batu bara kuat dan kemungkinan akan tetap demikian sepanjang tahun,” kata Dileep belum lama ini.

Dia mengatakan produksi di kuartal I-2021 diperkirakan sekitar 20 juta ton yang dipengaruhi oleh faktor cuaca dan tingginya curah hujan. Sementara sepanjang tahun ini produksi batu bara perusahaan diperkirakan sekitar 85-90 juta ton.

Sebelumnya dia mengungkapkan Batu bara yang diproduksi anak usaha BUMI yakni PT Kaltim Prima Coal (KPC) dan PT Arutmin Indonesia hampir sepenuhnya dipesan hingga periode produksi Juni 2021. Sebelumnya, perusahaan mencatat pada Maret 2021 penjualan naik menjadi 6,8 juta ton dibandingkan Februari 6 juta ton, karena perbaikan permintaan. Untuk KPC penjualan tercatat menjadi 5 juta ton pada Maret, dan Arutmin 1,8 juta ton.

Tahun ini KPC ditargetkan mencapai produksi 60-62 juta ton, dan Arutmin sebanyak 25-27 juta ton. Dengan begitu, secara keseluruhan BUMI menargetkan penjualan baru bara mencapai 85-89 juta ton sepanjang 2021, naik 4-9% dibandingkan realisasi 2020 sebanyak 81,5 juta ton.

“Baik KPC dan Arutmin hampir full booked untuk produksinya hingga Juni 2021. Pesanan sekarang sedang dikejar untuk pengiriman pertengahan 2021,” kata Dileep.

Asal tahu saja, hingga kuartal I 2021 produksi batubara BUMI mencapai 19,5 juta ton. Raihan ini ditopang produksi dari PT Kaltim Prima Coal (KPC) sebesar 14,5 juta ton dan PT Arutmin Indonesia sebesar 5 juta ton. Jumlah ini lebih rendah dari raihan di kuartal I 2020 yang mencapai sekitar 21,5 juta ton.

 

Dileep melanjutkan, dengan membaiknya sektor batubara ditandai tren kenaikan harga batubara yang berlanjut di kuartal II 2021, pihaknya berharap peningkatan kinerja signifikan dapat diraih di tahun ini. “Perseroan berharap dapat meningkatkan kinerjanya secara signifikan di tahun 2021, meskipun pandemi Covid-19 di Indonesia masih mempengaruhi pemulihan ekonomi,” kata Dileep.

Adapun, untuk tahun ini BUMI menargetkan produksi batubara mencapai level 85 juta ton hingga 89 juta ton. Selain itu, harga rata-rata diestimasikan pada kisaran US$ 51 per ton hingga US$ 54 per ton. Dalam catatan Kontan.co.id, BUMI MI) menganggarkan belanja modal alias capital expenditure (capex) di kisaran US$ 50 juta hingga US$ 60 juta untuk tahun ini.

Baca juga:

Tags: