Saham Asia naik pada Kamis (17/01) pagi setelah Federal Reserve memperkirakan ekonomi AS akan mampu menjalani kebijakannya melawan tingkat inflasi yang tinggi. Namun, imbal hasil Treasury AS yang lebih datar dapat bermakna pertumbuhan ekonomi tidak akan sekuat yang diharapkan.

Nikkei 225 Jepang melonjak sebesar 2,88% pada pukul 09.39 WIB dan KOSPI Korea Selatan melesat naik 1,77%.

Di Australia, ASX 200 menguat 1,41%. Data ketenagakerjaan Februari 2022 menunjukkan perubahan pekerjaan sebanyak 77.400, perubahan pekerjaan penuh tercatat 121.900, dan tingkat pengangguran mencapai 4%.

Indeks Hang Seng Hong Kong melonjak 4,52%. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sedikit menguat 0,08% di 6.997,91 hingga pukul 10.11 WIB.

Shanghai Composite China naik 1,72% dan Shenzhen Component melonjak 2,6%. Sikap negara tersebut yang lebih ramah pasar mendorong sentimen dan indeks saham China yang terdaftar di AS melonjak 33% semalam.

Saham-saham AS mencatat kenaikan dua hari terbaiknya sejak April 2020. Setelah The Fed menaikkan suku bunganya menjadi 0,5% dalam keputusan kebijakan yang diterbitkan pada Rabu setempat. Fed juga mengisyaratkan kenaikan untuk semua enam pertemuan yang tersisa pada tahun 2022 dan Ketua Fed Jerome Powell mengatakan ekonomi AS “sangat kuat” dan dapat menangani pengetatan moneter.

Keuntungan untuk Treasury AS lebih kecil, dan kurva imbal hasil tetap mendatar. Yang terakhir membuat beberapa investor mempertanyakan apakah The Fed akan mampu menahan inflasi tanpa memicu perlambatan kuat dalam pertumbuhan, atau bahkan resesi.

“Pesan keseluruhan yang Anda dapatkan dari The Fed hari ini sangat jelas,” tandas Kepala Strategi Internasional Deutsche Bank AG (NYSE:DB), Alan Ruskin kepada Bloomberg. “Mereka ingin kondisi keuangan diperketat. Masalahnya ada, bisakah Anda melakukan pendaratan mulus untuk hal ini? Secara historis, ketika The Fed melakukan pengetatan, Anda mendapatkan pendaratan yang keras di suatu tempat.”

Baca juga: Saham Wall Street Menguat Pasca Tekanan Krisis Ukraina

Bank sentral itu juga akan mulai membiarkan neraca senilai $8,9 triliun menyusut pada “pertemuan mendatang” tetapi tidak memberikan rincian lanjutan.

“Ada kemungkinan kita akan melihat inversi kurva imbal hasil,” Ahli Strategi Pasar Global Asset Management JPMorgan, Meera Pandit, mengatakan kepada Reuters.

Itu tidak berarti resesi AS karena sinyal pasar obligasi sedang dibentuk oleh kombinasi yang tidak biasa dari pengurangan aset Fed, kenaikan suku bunga dan pengurangan neraca selama periode yang relatif singkat, tambahnya.

Bank of England akan memberikan keputusan kebijakannya hari ini. Presiden ECB Christine Lagarde, anggota Dewan Eksekutif Isabel Schnabel, anggota Dewan Gubernur Ignazio Visco, dan Kepala Ekonom Philip Lane akan berbicara dalam konferensi pada hari yang sama.

Bank of Japan akan mengeluarkan keputusan kebijakannya pada hari Jumat.

Sementara itu, gejolak komoditas dari invasi Rusia ke Ukraina pada 24 Februari terus memperburuk tekanan harga dan risiko ekonomi. Juru bicara Rusia Dmitry Peskov mengatakan bahwa Ukraina yang netral dengan tentaranya sendiri adalah kemungkinan tercapainya kompromi.

Namun, Ukraina mengatakan perlu jaminan keamanan. Presiden AS Joe Biden mengatakan negaranya akan mengirim pesawat tanpa awak untuk Ukraina dan ribuan rudal anti-pesawat serta artileri anti-tank.

 

Sumber

Baca juga: Bank Dunia dan IMF Siapkan Bantuan Dana untuk Ukraina