Perdana Menteri Australia dan New Zeaeland menyatakan antusiasmenya untuk membangun perjanjian dagang dengan Inggris dalam masa pemulihan ekonomi dari COVID-19. Kerja sama dengan Inggris dinyatakan sebagai stimulus besar untuk perekonomian mereka setelah masa pandemi berakhir.

Antusiasme Australia dalam Perjanjian Dagang

Senator Australia menyatakan bahwa negaranya sudah siap untuk membantu Inggris dalam transisinya setelah Brexit. Harapannya adalah dengan perjanjian ini, para petani, pelaku bisnis, dan investor, dapat membantu memulihkan ekonomi Australia akibat adanya peluang baru. Peluang ini dikonsiderasikan sebagai hal yang besar akibat dari status Inggris yang merupakan rekan dagang ketujuh terbesar dari Australia.

Birmingham, Senator Australia, menyatakan bahwa perjanjian akan dilakukan secepat mungkin. Hal ini disebabkan oleh antusiasme kedua pihak akibat dampak yang akan diberi bagi kedua negara. Perjanjian ini diharapkan memperluas peluang perdagangan internasional dan membantu memperkuat rantai pasokan untuk menghadapi adanya guncangan ekonomi di masa depan.

Perihal detail perjanjian dagang dengan Inggris, Birmingham diharapkan memberikan penjelasan ini pada National Press Club Australia pada Hari Rabu ini. Negosiasi perjanjian pertama antara Australia dan Inggris direncanakan akan dimulai pada 29 Juni. Namun karena adanya COVID-19, negosiasi ini akan digelar secara jarak jauh.

Antusiasme New Zealand dalam Perjanjian Dagang

Menteri perdagangan New Zealand, David Parker, menyetujui pernyataan Birmingham. Beliau menyatakan bahwa dengan adanya negosiasi perjanjian perdagangan bebas, Seluruh negara terlibat akan mendapatkan dampak positif. Dengan melangkahnya Inggris untuk transisi keluar dari Uni-Eropa, New Zealand dengan senang hati merangkul Inggris untuk perjanjian dagang yang menguntungkan. Antusiasme ini juga didukung oleh status hubungan Inggris dan New Zealand yang memang memiliki sejarah kedekatan yang baik.

Hubungan Inggris dan New Zealand selama ini merupakan hubungan yang sangat baik akibat banyaknya keterikatan dalam perdagangan dan aktivitas ekonomi. Ditambah dengan banyaknya budaya, nilai-nilai kenegaraan, dan sejarah yang hampir serupa, hubungan mereka menjadi sangat dekat dan baik sepanjang waktu. Inggris juga merupakan rekan dagang keenam terbesar New Zealand. Tahun lalu, perdagangan dua arah ini mencapai transaksi sebesar 6 Milyar Dolar New Zealand.

David Parker menyatakan bahwa perjanjian akan difokuskan pada beberapa perihal yaitu, pencabutan tarif dagang, pendekatan baru terhadap perdagangan tanpa tarif, peraturan perbatasan yang efisien antar negara, kesepakatan dalam aturan dagang. Selain itu, pengembangan perdagangan digital, dan ketentuan perdagangan baru yang bersifat berkelanjutan juga akan dilakukan bersama dengan pembahasan dampak terhadap lingkungan alam.

Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson, menyatakan bawa harapannya adalah minggu ini Inggris dapat membuat kesepakatan dengan Uni-Eropa. Kesepakatan ini adalah untuk penetapan batas akhir Bulan Juli untuk negosiasi. Dengan batas akhir Bulan Juli, Inggris dapat mulai memfokuskan perhatiannya pada negara lainnya seperti dengan Australia dan New Zealand. Namun, banyak rintangan yang harus dihadapi, yaitu perjanjian yang sulit untuk disepakati, seperti perjanjian perikanan. Di luar dengan Australia dan New Zealand, Inggris juga sudah merencanakan perjanjian dengan Amerika dan Jepang.

Baca Juga: Pound Sterling Inggris Melemah Terhadap Euro dan US Dollar Akibat Potensi Gelombang Kedua COVID-19 dan Pertemuan Penting

Dampak Untuk NZD, AUD, GBP

Dampak besar bagi perekonomian Australia dan Amerika sangat diharapkan, terutama dengan dampak yang dapat diberikan perjanjian dagang ini. Kedepannya, dengan menguatnya perekonomian kedua negara ini, mata uang NZD dan AUD, diharapkan dapat kembali dalam apresiasinya akibat telah melemah sejak 2011 untuk AUD dan 2014 untuk NZD. Berita ini dapat membantu penguatan kedua mata uang tersebut setelah mulai penguatannya sejak April, terutama terhadap Dolar Amerika.

Bagi Inggris, mulai banyaknya sentimen positif dari pembukaan kembali perekonomian dapat membantu pemulihan ekonomi. Selain itu, stimulan yang dikeluarkan dari mayoritas negara dengan perekonomian besar, yang berpotensi menjadi rekan dagang, dapat memperkuat perekonomian Inggris. Sehingga, GBP dapat menguat kembali setelah bergerak melemah beberapa tahun ini, terutama terhadap Dolar Amerika.

 

Tags: