Pound Sterling melemah dalam pembukaan pasar minggu ini terhadap EUR dan USD dikarenakan oleh sentimen investor global yang menunggu kepastian pergerakan mata uang dan juga adanya pertemuan antara Boris Johnson dan Ursula von der Leyen, untuk membahas negosiasi perjanjian perdagangan Brexit

Pertemuan Kesepakatan Penting dalam Brexit

Pertemuan oleh Boris Johnson, Ursula von der Leyen, Charles Michel, dan David Sassoli akan digelar melalui konferensi video pada Senin 15 Juni siang hari waktu London.

Presiden Boris Johnson akan menyampaikan pada pemimpin Uni-Eropa bahwa perbincangan Brexit harus memiliki kesimpulan paling lambat pada musim gugur. Analis dari Danske Bank menyatakan bahwa pertemuan hari ini belum tentu dapat menghasilkan kesimpulan akibat dari belum adanya kesepakatan yang diraih dan terdapat kemungkinan perpanjangan periode transisi, yang memperkecil urgensi untuk menemukan kesepakatan dalam waktu dekat.

Pertemuan ini muncul setelah Inggris dan Uni-Eropa sepakat untuk meningkatkan intensitas negosiasi dan memetakan rencana jadwal negosiasi di Bulan Juli. Proses baru ini akan melibatkan beberapa negosiasi formal dan beberapa negosiasi dalam pertemuan berskala kecil. Rencana pertemuan-pertemuan tersebut memiliki tempat di Brussels dan juga di London. Pertemuan direncanakan akan terjadi setiap satu pekan dalam lima pekan, diantara awal pekan 29 Juni dan awal pekan 27 Juli.

Dampak Pertemuan Terhadap Pound Sterling

“Pandangan kami terhadap pergerakan Euro terhadap GBP adalah pelemahan nilai, jikalau tidak ada kabar positif dari perbincangan Brexit.”  Ujar Strategis FX Senior Rabobank. Prediksi ini dilanjutkan dengan pernyataan bahwa EUR/GBP akan mencapai titik 0.91 dalam pandangan bulanan, yang memberikan GBP/EUR pergerakan hingga titik 1.0990.

Grafik GBP/EUR

Pertemuan ini dilakukan tepat beberapa hari sebelum pertemuan besar oleh pemimpin-pemimpin Uni-Eropa pada tanggal 19 Juni. Pertemuan ini menjadi relevan akibat salah satu perihal yang akan dibahas yaitu negosiasi kesepakatan dagang Brexit. Namun, pertemuan ini tidak memiliki dampak yang besar untuk Pound Sterling akibat tidak adanya “faktor pengancam”. Walau tetap berdampak, dampaknya tidak akan sebesar pertemuan pemimpin Uni-Eropa pada Bulan Mei lalu, yang membuat arus jual akibat anggapan pasar terhadap pentingnya pertemuan tersebut.

Pada pertemuan ini, Dewan Uni-Eropa, akan memfokuskan agendanya pada pembahasan pemulihan dari COVID-19 dan juga anggaran jangka panjang Uni-Eropa. Pengabaian dari pembahasan kesepakatan Brexit sebagai agenda utama ini didasari oleh beberapa faktor. Beberapa faktor ini adalah akibat dari urgensi penanganan COVID-19 dan juga asumsi masih panjangnya waktu untuk menegosiasikan perjanjian dengan Inggris. Oleh karena itu, Pound Sterling akan lebih “kebal” terhadap pertemuan ini.

Namun, sebelum pertemuan antara Boris Johnson dan Ursula von der Leyen, terlihat bahwa Sterling sudah mengalami tekanan dalam pasar terhadap Euro dan US Dollar. Walau terjadi tekanan, Quid berhasil meningkat dari Aussie dan Kiwi

Cable terlihat mengalami penurunan sebesar 0,5% mencapai titik 1.2471, Chunnel turun sebesar 0,40% mencapai titik 1.1097. Namun, GBP/AUD naik sebesar 0,5% ke titik 1.8354, dan GBP/NZD naik sebesar 0,24% ke titik 1.9402.

Grafik GBP/USD

Baca Juga: Dolar Berpotensi Menguat Terhadap Mata Uang ASEAN

Kondisi COVID-19 Global

Pergerakan pada Sterling menandakan bahwa pergerakan risiko global adalah penguasa dari pasar, dengan pergerakan saham yang menghadapi tekanan jual akibat kekhawatiran investor.

Kekhawatiran ini muncul akibat dampak besarnya COVID-19 yang dapat menjadi pelatuk baru untuk melakukan penutupan ekonomi dengan melakukan karantina kembali. Di Amerika, peningkatan kasus COVID-19 meningkat di Alabama, Carolina Selatan, Florida, Alaska, dan Oklahoma. Peningkatan kasus ini menyebabkan turunnya kontrak jangka panjang pada beberapa ekuitas di Amerika sebesar 1% hingga 1,5%, bersamaan dengan komoditas yang terbuka turun pada pekan ini akibat kekhawatiran terhadap COVID-19.

India juga mengalami hal yang sama, dimana terdapat kesulitan menangani bertambahnya jumlah kasus COVID-19, setelah berkurangnya pembatasan sosial. Peningkatan kasus COVID-19 juga terjadi di Beijing dimana sebelumnya telah terjadi penurunan kasus. Pada Senin pagi, tercatat bahwa terdapat 76.500 konfirmasi kasus positif.

Akibat dari peningkatan kembali kasus COVID-19 karena pelonggaran pembatasan sosial, investor mengalami kecemasan. Kecemasan ini membentuk sebuah ketidakpastian, terutama pada pasar modal dan juga harga komoditas. Oleh karena itu, Sterling masih berada di tekanan yang besar, dan diprediksi masih akan mengalami depresiasi.

Dilansir dari: Pound Sterling Live

Tags: