Mata uang Amerika, berpotensi mengalami peningkatan terhadap beberapa mata uang ASEAN. Prediksi  ini dilakukan oleh salah satu analis pada DailyFx yang menyatakan bahwa pergerakan Dollar Amerika berpotensi mengalami peningkatan secara volatil terhadap Rupiah Indonesia, Ringgit Malaysia, Dolar Singapura, dan Peso Filipina.

Rangkuman Pergerakan Mingguan

Dolar Amerika berhasil bangkit dari jatuhnya terhadap beberapa negara ASEAN pada beberapa minggu yang lalu. Peningkatan tertinggi terlihat pada Rupiah dan juga Peso, akibat pergerakan terhadap Dolar Singapura dan Ringgit yang terjadi hanya sedikit. Seperti yang diduga fokus fundamental dari pergerakan Dolar Amerika terhadap beberapa mata uang Asia Tenggara ini tetap terjaga pada toleransi resiko volatilitas.

Namun, pada akhir pekan terjadi pergerakan besar dalam volatilitas oleh Dolar Amerika. Hal ini terjadi setelah adanya keputusan tingkat suku bunga oleh FED dimana kepala dari Federal Reserve, Jerome Powell, menyatakan beberapa kekhawatirannya terhadap kemungkinan pemulihan ekonomi kedepannya, yang masih belum stabil. Selain itu, kasus COVID-19 juga masih meningkat terutama di daerah bagian California dan Texas bersamaan dengan terjadinya protes terhadap rasisme.

Disaat yang bersamaan, Rupiah mengalami penurunan nilai paling tinggi, seperti yang tertera pada grafik dibawah. Hal ini dilihat dari Indonesia yang mengalami tingkat kasus COVID-19 yang memberikan tanda kekhawatiran bersamaan dengan mulai dibukanya kembali beberapa bisnis. Peso juga mengalami penurunan setelah terjadinya penurunan dalam nilai ekspor lokal sebesar 50,8 % dalam jangka tahunan, pada Bulan April yang merupakan angka terendah sejak Februari 2009.

Baca Juga : Saham Asia Turun Karena Kekhawatiran Pandemi Covid-19 Kembali Muncul

Pergerakan Minggu Lalu

Beberapa Faktor Internal Amerika Penyebab Volatilitas

Dengan adanya volatilitas yang meningkat, Dolar Amerika dapat kembali pada posisi yang menguntungkan untuk seminggu kedepan. Hal ini terjadi akibat dari perbuatan The FED yang melakukan pengurangan dalam penyerapan anggaran negara untuk menambah jumlah uang beredar, dengan asumsi ingin membuat investor menginginkan likuiditas lebih. Dukungan yang kecil dari Bank Sentral dapat meningkatkan argumen pentingnya perkembangan ekonomi untuk terus mendorong peningkatan pada pasar keuangan global.

Dalam kasus ini, Jerome Powell akan memberikan informasi mengenai laporan kebijakan moneter paruh tahun sebelum Senate Banking Comitee ada Hari Selasa, dimana para pembentuk kebijakan dari berbagai departemen lainnya juga akan memberikan pidato. Jika para pemangku kebijakan memberikan beberapa tanda peringatan terhadap pemulihan ekonomi, kemungkinan beberapa ekuitas dapat mengalami perubahan harga akibat dari peningkatan dalam pendapatan di kuartal kedua. Hal ini dapat mendorong Dolar Amerika, dan menggerakan USD/SGD serta USD/MYR lebih tinggi.

Untuk Rupiah dan Peso pergerakan masih harus melihat bagaimana pergerakan dari modal yang masuk kepada pasar yang berkembang. Kemungkinan dapat terjadi pergerakan dana keluar yang besar yang dapat terjadi bersamaan dengan volatilitas pasar dapat beresiko meningkatkan tekanan jual pada beberapa mata uang ASEAN. Terdapat juga kemungkinan bahwa sektor perdagangan ritel Amerika meningkat pada Hari Selasa. Peningkatan pada pemulihan perekonomian ini dapat menyebabkan pemulihan pada pasar keuangan global.

Beberapa Faktor Eksternal dari Negara ASEAN

Dari Benua Asia-Pasifik, beberapa informasi yang akan disampaikan berpotensi hanya memiliki resiko kecil. Beberapa informasi ini dimulai dari produksi sektor industri dan perdagangan ritel Cina. Akhir-akhir ini, informasi dari negara ini telah melewati ekspektasi dari beberapa ekonom. Informasi pemulihan ini dapat menekankan pemulihan Cina terhadap COVID-19. Menjadi mitra dagang utama dari negara-negara di ASEAN, membuat efek pemulihan dari Cina dapat memberi dampak positif bagi negara ASEAN lainnya.

Informasi positif ini dapat membantu turunnnya rata-rata mata uang Dolar Singapura, Rupiah Indonesia, Peso Filipina, dan Ringgit Malaysia. Pada Hari Kamis, Bank Indonesia diprediksi akan menurunkan suku bunga acuannya dari 4.50% menjadi 4.25%. Namun, perubahan ini belum tentu menjadi pertanda buruk bagi Rupiah. Hal ini disebabkan oleh usaha Bank Indonesia yang akhir-akhir ini melakukan upaya untuk menstabilkan mata uangnya. Upaya ini, dapat menjadi salah satu cara untuk membantu mata uang Rupiah jika tekanan penjualan terus terjadi pada Rupiah kedepannya.

Dilansir dari: DailyFX

Tags: