Pergerakan harga rupiah kembali melemah melawan dolar Amerika Serikat (AS) di awal perdagangan Selasa (29/11/2022). Pelaku pasar menanti rilis data ekonomi dari dalam negeri, dan kepastian apakah bank sentral AS (The Fed) akan mengendurkan laju kenaikan suku bunganya pada Desember.

Melansir data Refinitiv, rupiah membuka perdagangan dengan stagnan di Rp 15.720/US$. Setelahnya rupiah melemah tipis 0,1% ke Rp 15.735/US$ pada pukul 9:10 WIB. Jika gagal bangkit hingga penutupan nanti, rupiah akan mencatat pelemahan 3 hari beruntun.

Dari dalam negeri, Rabu besok akan ada Pertemuan Tahunan Bank Indonesia. Pelaku pasar akan melihat proyeksi-proyeksi yang diberikan Bank Indonesia untuk tahun depan. Hal ini bisa menggerakkan nilai tukar rupiah.

Sehari setelahnya, akan ada rilis data aktivitas sektor manufaktur dan inflasi. Pada bulan lalu, S&P Global melaporkan purchasing managers’ index (PMI) manufaktur Indonesia tumbuh 51,8 pada Oktober. Meski turun cukup dalam dari bulan sebelumnya 53,7 tetapi masih berada di atas 50.

Angka di atas 50 artinya ekspansi, sementara di bawahnya adalah kontraksi.

Sementara itu Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi Indonesia pada Oktober 2022 mencapai 5,71% (yoy), lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya yaitu 5,95%.

Baca juga: Rupiah Melemah 3 Bulan Berturut-turut

Jika di pekan ini PMI manufaktur dilaporkan naik atau setidaknya masih di atas 50, dan inflasi kembali melandai, tentunya akan menjadi kabar bagus yang bisa mendongkrak kinerja rupiah.

Sementara itu dalam beberapa pekan terakhir ekspektasi The Fed akan mengendurkan laju kenaikan suku bunganya semakin menguat. Tetapi Presiden Fed James Bullard dan John Williams mengingatkan inflasi masih jauh di atas target The Fed sehingga suku bunga tinggi masih akan bertahan hingga 2024.

Kemungkinan suku bunga tinggi bertahan lama juga diungkapkan Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo. Fenomena ini disebut sebagai kebijakan higher for longer.

Semakin lama suku bunga tinggi ditahan, tekanan bagi rupiah tentunya bisa lebih lama, apalagi jika BI tidak mengimbangi kenaikan suku bunga The Fed.

Selain itu, yang menjadi fokus utama sebenarnya bukan berapa basis poin kenaikan, tetapi seberapa tinggi suku bunga The Fed di akhir periode pengetatan moneter.

Berdasarkan data FedWatch, pasar melihat suku bunga berada di sekitar 5% pada Maret 2023, yang kemungkinan menjadi akhir kampanye kenaikan.

Artinya, ada tambahan sekitar 125 basis poin dari level saat ini. Artinya, agar rupiah mampu menguat, BI ke depannya juga harus tetap menaikkan suku bunga acuannya.

 

 

Sumber

Baca juga: Mata Uang yang Anjlok Tahun Ini, Apa Saja?

Tags: