Kripto terkoreksi cenderung tipis pada perdagangan Senin (27/06), karena investor masih wait and see sehingga penguatannya tak berlangsung lama.

Melansir data dari CoinMarketCap pada pukul 09:05 WIB, Bitcoin melemah 1,43% ke harga $21.090.77 (Rp 312,14 juta). sedangkan Ethereum terkoreksi 1,6% ke posisi $1.215,09 atau Rp17,98 juta.

Namun, ada salah satu koin digital (token) yang masih melonjak hingga 10% lebih pada hari ini.  Yakni Dogecoin yang harganya melejit 10,91% ke $0,07519 (Rp 1.113).

Meski terlihat terkoreksi, namun Bitcoin cenderung bertahan di kisaran harga $21.000 pada hari ini. Bitcoin sudah mencoba untuk menembus kisaran harga $21.000 sejak Jumat pekan lalu.

Dalam sepekan terakhir, Bitcoin terpantau melesat 6,18%. Tetapi dalam sebulan terakhir, Bitcoin masih mencatatkan koreksi 26,93% dan sepanjang tahun ini juga masih mencatatkan koreksi hingga 55,92%.

Perlu diketahui, harga penutupan tertinggi Bitcoin di tahun ini berada di $47.971 pada 28 Maret 2022.

Hanya dalam kurun waktu kurang dari 3 bulan saja, nilai kapitalisasi pasar Bitcoin sudah ambrol 63%. Secara teknis, harga Bitcoin masih berada dalam tren bearish, di mana tren ini sudah terbentuk sejak awal tahun lalu.

Tren penurunan harga Bitcoin yang juga diikuti oleh token kripto lain disebabkan oleh beberapa faktor. Baik dari sisi makroekonomi maupun aspek terkait fundamentalnya.

Dari sisi ekonomi, tren inflasi yang terus meningkat membuat bank sentral dunia, utamanya di Negara Barat pun mulai mengetatkan kebijakan moneter berupa kenaikan suku bunga secara agresif.

Bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve (The Fed) merupakan salah satunya. Di awal tahun ini, The Fed masih menahan suku bunga acuan Federal Funds Rate (FFR) di kisaran 0%.

Baca juga: Penambang Kripto Obral Bitcoin untuk Bayar Listrik!

Namun hingga pertemuan terakhir Komite Pengambil Kebijakan (Federal Open Market Committee/FOMC) The Fed pada Juni lalu, target FFR dinaikkan menjadi kisaran 1,5-1,75%.

Kenaikan suku bunga acuan di AS membuat dolar AS menguat. Alhasil mata uang negara lain maupun Bitcoin serta berbagai token kripto yang digadang-gadang sebagai pengganti uang fiat pun menjadi tumbal atas keperkasaan sang greenback.

Di sisi lain, aspek fundamental berbagai token kripto menjadi perhatian investor. Pasalnya berbagai skandal yang membayangi ekosistem kripto sedang banyak.

Mulai dari adanya aksi pemutusan hubungan kerja (PHK) oleh perusahaan sekelas Coinbase dan BlockFi hingga masalah solvabilitas pada beberapa kripto yang membuatnya tidak stabil dan menjadi katalis negatif untuk kripto lain termasuk Bitcoin.

Harga Bitcoin memang mengalami rebound setelah turun ke bawah US$ 20.000/BTC. Namun di tengah kondisi yang tak bersahabat seperti sekarang, investor di pasar kripto masih cenderung menghindari risiko besar dengan memilih wait and see terlebih dahulu.

Kenaikan harga Bitcoin yang terjadi baru-baru ini kemungkinan disebabkan oleh aksi borong investor karena harganya sudah terkoreksi parah.

Selain itu ada pula ketakutan bahwa kenaikan kali ini hanya merupakan dead cat bounce atau istilah di mana terjadinya kenaikan suatu aset secara sementara sebelum melanjutkan tren penurunannya.

Dalam waktu singkat, Bitcoin memang memiliki peluang kenaikan yang cukup terbuka. Namun jika harus kembali ke level tertinggi tahun ini, butuh katalis yang kuat seperti anjloknya dolar AS agar bisa terwujud.

 

Sumber

Baca juga: Dolar AS Naik Terus, Rupiah Terkoreksi Tajam!