Kripto Anjlok Lagi Gara-gara Ini!

Harga kripto utama cenderung terkoreksi pada Kamis (1/9), karena investor masih berhati-hati memburu aset berisiko di tengah ketidakpastian kondisi ekonomi global.

Melansir data dari CoinMarketCap pada pukul 09:00 WIB, Bitcoin melemah 0,42% ke posisi harga $20.135,76 atau setara dengan Rp299,41 juta. Sedangkan Ethereum merosot 1,33% ke posisi $1.559,82 atau Rp23,19 juta.

Sementara untuk altcoin seperti XRP, Solana, dan Dogecoin terkoreksi lebih dari 1%. Sedangkan untuk BNB dan Cardano terkoreksi lebih dari 2%.

Bitcoin hingga hari ini masih bertahan di level psikologisnya di $20.000. Investor yang masih berhati-hati memburu aset berisiko menjadi penyebab gerak harga Bitcoin dan kripto tidak banyak berubah.

Investor kembali khawatir karena bursa saham AS terus mencatatkan koreksi hingga empat hari beruntun.

Pergerakan kripto dengan Wall Street sudah berkorelasi positif beberapa bulan terakhir. Kripto sudah berkorelasi antara indeks S&P 500 dan Nasdaq. Sehingga, jika Wall Street terkoreksi, utamanya kedua indeks utama tersebut, maka pasar kripto juga cenderung terkoreksi.

Aksi jual melanda Wall Street sejak Jumat lalu setelah ketua bank sentral AS (The Fed), Jerome Powell menegaskan akan terus menaikkan suku bunga dan menahannya dalam waktu yang lama sampai inflasi kembali ke 2%.

Bank sentral lain juga akan mengikuti The Fed. Seperti bank sentral Eropa (European Central Bank/ECB) yang juga menunjukkan tanda-tanda akan agresif. Anggota dewan gubernur ECB, Madis Muller mengatakan ECB seharusnya mulai mendiskusikan kenaikan 75 basis poin (bp) di bulan September.

Alhasil risiko resesi dunia menjadi semakin kencang. Perekonomian AS juga sudah menunjukkan tanda-tanda perlambatan.

Baca juga: Bitcoin Anjlok Lagi, Turun ke Level $42k

Menurut data yang dirilis oleh Automatic Data Processing Inc. (ADP) hari ini mengumumkan sektor swasta AS sepanjang bulan Agustus menyerap 132.000 tenaga kerja, turun dari bulan sebelumnya 270.000 tenaga kerja, dan sangat jauh dari estimasi Dow Jones sebesar 300.000 tenaga kerja.

“Data kami menunjukkan pergeseran arah kecepatan perekrutan menjadi lebih konservatif, kemungkinan karena korporasi melihat sinyal-sinyal ekonomi yang tidak sejalan,” kata Nela Richardsonl, kepala ekonom ADP, sebagaimana dilansir CNBC International.

Jebloknya Wall Street memang menjadi kabar buruk bagi investor, tetapi di sisi lain, bisa menurunkan inflasi lebih cepat. Maklum saja, kapitalisasi pasar Wall Street lebih dari US$ 40 triliun, atau dua kali lipat dari produk domestik bruto (PDB) AS.

Ketika Wall Street jeblok, maka warga AS akan merasa lebih “miskin” sehingga menunda belanja. Pada akhirnya, demand pull inflation bisa mulai melandai.

“Tidak ada peluang untuk menurunkan inflasi kecuali The Fed agresif menaikkan suku bunga, atau pasar saham mengalami crash, yang memicu keruntuhan ekonomi sehingga menurunkan demand,” kata triliuner Bill Ackman dalam cuitannya di Twitter yang dikutip CNBC International, Selasa (24/5/2022) lalu.

Saat itu Wall Street sedang babak belur, akibat pelaku pasar tidak yakin The Fed akan mampu meredam kenaikan inflasi.

“Jika The Fed tidak melakukan tugas mereka (meredam inflasi dengan menaikkan suku bunga), pasar yang akan melakukan tugas mereka, dan itu terjadi saat ini. Satu-satunya cara untuk menghentikan amukan inflasi adalah dengan menaikkan suku bunga agresif atau meruntuhkan perekonomian,” tambah Ackman.

The Fed kini sudah sangat agresif dalam menaikkan suku bunga, sebanyak 4 kali dengan total 225 basis poin (bp) menjadi 2,25-2,5%. Di bulan ini, Powell dan kolega diperkirakan akan kembali menaikkan sebesar 75 basis poin (bp), setelah melakukannya dua kali beruntun.

 

Sumber

Baca juga: Indeks Dolar AS Anjlok, Rupiah Menguat?