Indeks dolar AS anjlok pada perdagangan Rabu (13/4) kemarin. Hal itu membuat rupiah berpotensi menguat di awal perdagangan Kamis (14/4). Melansir data Refinitiv, rupiah membuka perdagangan dengan menguat 0,06% ke Rp 14.354/US$. Apresiasi rupiah kemudian bertambah menjadi 0,08% ke Rp 14.350/US$ pada pukul 9:07 WIB.

Rupiah belum akan banyak bergerak terindikasi dari kurs non-deliverable forward (NDF) yang tidak jauh berbeda pagi ini ketimbang beberapa saat setelah penutupan kemarin.

NDF adalah instrumen yang memperdagangkan mata uang dalam jangka waktu tertentu dengan patokan kurs tertentu pula. Sebelumnya pasar NDF belum ada di Indonesia, hanya tersedia di pusat-pusat keuangan internasional seperti Singapura, Hong Kong, New York, atau London.

Pasar NDF seringkali mempengaruhi psikologis pembentukan harga di pasar spot.

Indeks dolar AS akhirnya ambrol 0,42$ kemarin setelah terus menanjak hingga ke level tertinggi dalam dua tahun terakhir. Pagi ini, indeks yang mengukur kekuatan dolar AS tersebut kembali turun 0,1% ke 99,78.

Penurunan tersebut terjadi selain akibat profit taking, juga karena ada bank sentral Eropa (European Central Bank/ECB) yang akan mengumumkan kebijakan moneter hari ini.

Baca juga: Inflasi Amerika Serikat Melambung 8,5%, Tertinggi sejak 1981

ECB selama ini menjadi salah satu bank sentral utama yang paling kalem meski inflasinya di zona euro juga melesat tinggi. Presiden ECB, Christine Lagarde, mengatakan masih punya “ruang ekstra” sebelum menaikkan suku bunga.

Tetapi jika ECB memberikan kejutan hari ini, maka euro berpeluang terus menguat dan indeks dolar AS menurun. Penurunan tersebut bisa dimanfaatkan rupiah untuk menguat.
Selain itu, meski bank sentral AS (The Fed) akan agresif menaikkan suku bunga, pelaku pasar justru mengurangi posisi spekulatif dolar AS.

Berdasarkan data Commodity Futures Trading Commission (CFTC) yang dirilis Jumat pekan lalu.

Data tersebut menunjukkan pada pekan yang berakhir 5 April posisi beli bersih (net long) dolar AS mengalami penurunan nyaris US$ 2 miliar menjadi US$ 14,13 miliar.
Penurunan tersebut merupakan yang pertama setelah naik selama 5 pekan.

Posisi spekulatif tersebut merupakan dolar AS melawan yen Jepang, euro, poundsterling, franc, dolar Kanada serta dolar Australia.

Berkurangnya posisi spekulatif tersebut menjadi indikasi meski The Fed akan agresif menaikkan suku bunga, tetapi sebagian pelaku pasar melihat dolar AS tidak akan menguat terlalu jauh.

 

Sumber

Baca juga: Pasar Keuangan Indonesia Kompak Terkoreksi!