Pergerakan Dolar Amerika kedepannya akan sangat terpengaruh oleh potensi gelombang virus Covid-19. Pergerakan ini tercermin pada beberapa mata uang negara Asia yaitu Dolar Singapura, Rupiah, Ringgit, dan Peso.

Pergerakan Dolar Amerika dan Indeks Sahamnya

Dolar Amerika, mengalami beberapa gerakan signifikan terhadap mata uang ASEAN seperti rupiah dan Dolar Singapura pekan lalu. Walau terdapat beberapa pergerakan ini, Dolar Amerika masih menjadi tujuan utama dalam preferensi risiko. Hal ini didukung oleh pergerakan indeks besar saham Amerika, yang seperti diketahui memang hubungannya negatif dengan mata uangnya.

Penurunan dalam insentif investor ini, dapat disebabkan oleh virus Covid-19 yang terus menyebar di seluruh dunia. Cina, yang merupakan negara pertama dalam hal terdampaknya virus ini, mulai mengalami penanganan serius, melihat adanya potensi gelombang kedua. Potensi ini juga didukung oleh beberapa negara bagian seperti California, Arizona, Florida dan Texas yang mengalami peningkatan dalam kasus di akhir pekan ini. Brazil, juga mengalami peningkatan yang tinggi hingga angka 1 Juta.

Baca juga: Kontrak Jangka Panjang Turun! Covid-19 Naik Lagi

Dampak Terhadap Mata Uang ASEAN

Rupiah, merupakan mata uang yang terkena dampak terbesar akibat adanya virus ini walaupun bank sentral telah melakukan mitigasi terhadap depresiasi. Peso merupakan mata uang yang paling kuat diantara mata uang ASEAN lainnya. Pernyataan ini didukung dengan pergerakannya yang terus ter apresiasi sepanjang pekan. Selain itu, Rupee mengalami depresiasi akibat dari konfliknya dengan Cina. Seluruh pergerakan ini diukur dengan basis Dolar Amerika.

Pergerakan Mata Uang

Risiko Eksternal

Dengan meningkatnya kasus Covid-19 di beberapa bagian dunia, spekulasi tentang penerapan kembali karantina mulai muncul. Jika karantina diterapkan, maka perekonomian akan mengalami penurunan terus menerus hingga menyamai masa perang dunia kedua. Spekulasi ini dapat mendorong apresiasi Dolar Amerika sebagai mata uang safe-haven dan mendorong SGD, MYR, IDR, dan PHP ke bawah.

Hal ini didorong dengan adanya potensi berita-berita positif dari Amerika. Akhir-akhir ini, data dari Amerika, telah mendorong perekonomian akibat adanya ekspektasi-ekspektasi yang muncul. Data yang paling baru dan terlihat dampaknya adalah data penjualan ritel yang naik 17,7% dari Bulan Mei. Harapannya adalah bahwa minggu ini akan terjadi hal yang sama akibat adanya data sektor jasa dan manufaktur, konsumsi, dan transaksi barang.

Jika data terus menunjukkan pergerakan positif, maka USD/SGD, USD/MYR, USD/IDR, dan USD/PHP berpotensi akan turun. Pentingnya data ekonomi juga terlihat pada pergerakan saham yang menunjukkan penurunan akibat dari adanya data neraca keseimbangan oleh The Fed. Sehingga, investor berpotensi mencari likuiditas dan beralih kepada mata uang Dolar Amerika. Risiko lain yang dapat muncul sehingga mendorong Dolar Amerika adalah data dari IMF yang akan muncul mengenai pertumbuhan ekonomi.

Risiko dari Internal ASEAN

Berfokus pada ASEAN, Malaysia dan Filipina akan mengeluarkan data terbaru mengenai cadangan devisa. Dengan adanya ketidakpastian secara global, investor akan mencari likuiditas, dan data ini akan menjadi hal yang penting dalam konsiderasi. Singapura dan Malaysia juga akan melaporkan data indeks harga konsumennya. Namun, fokus dari USD/SGD, USD/MYR, dan USD/PHP akan tetap pada MSCI indeks pasar berkembang (MSCI Emerging Market Index)

Grafik Harian MSCI dan Asian Based USD Index

Pada hari Kamis, Peso akan sangat bergantung pada Bank Sentral Filipina (BSP). Para analis ekonomi, terbagi dalam dua pendapat mengenai keputusan BSP yang dapat mengurangi suku bunga pinjaman antar bank sebesar 2,75%. Keputusan ini dapat membuat hampir setengah dari investor yang ada pada hasil yang tidak sesuai prediksi. Kondisi ini dapat menjadikan pergerakan Peso lebih volatil kedepannya.

Singapura juga akan menutup pekan ini dengan data produksi sektor industri. Data ini akan menjadi acuan oleh investor untuk melihat pergerakan ekonomi Singapura kedepannya. Namun, data ini diprediksi tidak akan menyebabkan banyak pergerakan untuk SGD. Hal ini disebabkan oleh mata uang ini yang lebih rentan terhadap faktor eksternal.

Dilansir dari DailyFX

Tags: