Kripto Belum Melambung Lebih Tinggi? Berikut Penjelasannya!

Invasi Rusia ke Ukraina telah memicu serangkaian risiko geopolitik yang menyebabkan pemerintah dunia menekan warga Rusia. Pasar keuangan global juga menekan warga Rusia dan tekanan ini mungkin yang paling mengkhawatirkan di antara ancaman baru-baru ini.

Beberapa pelaku pasar percaya bahwa mata uang kripto yang relatif baru dapat digunakan sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan sebagai aset safe haven selama masa gejolak geopolitik. Pada awal Maret 2022, dengan inflasi yang mengamuk, dan lanskap politik global memburuk ke titik di mana potensi perang dunia berada pada level tertinggi sejak 1945, mengapa mata uang digital belum melambung lebih tinggi?

Kelas aset baru

Bitcoin baru mulai dikenal tahun 2010, tetapi keberadaan aset kripto lainnya di pasar lebih baru lagi. Pengenalan Bitcoin futures pada akhir 2017 telah membawa kripto terkemuka ini ke arus utama, mendorong harga menjadi lebih dari $20.000 per token. Namun, token telah bergerak lebih tinggi dalam kondisi yang sangat fluktuatif.

Pada tahun 2010, Bitcoin diperdagangkan dengan harga lima sen per token. Di akhir 2013, harga naik ke level tertinggi $1.135,45 kemudian jatuh kembali di bawah $1.000, tahun 2017 Bitcoin meledak ke atas. Dalam beberapa tahun terakhir, kisaran pergerakan tahunan sangat luar biasa. Pada tahun 2021, kisaran harga Bitcoin adalah dari $28.957,79 hingga $68.906,48 per token.

Meskipun risiko geopolitik telah meningkat, tiga faktor telah membebani nilai mata uang kripto hingga awal Maret 2022. Namun, harga tetap mempunyai potensi untuk terus meningkat.

Bitcoin adalah salah satu aset yang paling fluktuatif, jadi mungkin tidak butuh waktu lama bagi kripto terkemuka ini apakah akan meledak ke atas atau jatuh ke titik terendah lainnya.

Tiga katalis telah menghalangi reli besar-besaran pada Bitcoin dan mata uang kripto lainnya dalam beberapa minggu terakhir di awal 2022.

Baca juga: Ini Alasan yang Buat Bitcoin Bisa Kalahkan Emas

1. Pemerintah menyukai blockchain tetapi membenci kripto

Spekulan dan banyak pelaku pasar telah memeluk mata uang kripto sebagai kelas aset utama. Namun, pemerintah belum termasuk sebagai pendukungnya.

Banyak kritik berpusat di sekitar penggunaan ilegal mata uang tak dikenal, dalam hal ini kripto, yang peredarannya tidak terdeteksi radar kontrol pemerintah dan penegakan hukum. Ketakutan yang mendasarinya adalah mata uang kripto telah mengganggu kemampuan pemerintah untuk memperluas atau mengontrak pasokan uang dengan menyuntikkan atau menarik alat pembayaran yang sah dari sistem keuangan global.

Meskipun demikian, pemerintah telah merangkul teknologi blockchain, yang menopang aset kripto, karena ini adalah inti dari revolusi fintech, meningkatkan kecepatan, efisiensi, dan pencatatan untuk transaksi keuangan. Di saat yang sama pemerintah melihat mata uang kripto sebagai ancaman, karena dengan adanya kripto pemerintah tidak dapat mengontrol jumlah uang beredar, ini yang membuat pemerintah menolak dan membenci kelas aset yang sedang berkembang yang jumlahnya saat ini lebih dari 18.000 token yang beredar di dunia maya.

2. Terjadi bearish reversal pada pertengahan November

Dua mata uang kripto terkemuka, Bitcoin dan Ethereum, sangat fluktuatif selama beberapa tahun terakhir. Pada 10 November 2021, keduanya mencapai level tertinggi sepanjang masa. Setelah itu, keduanya mengalami bearish reversal yang menyebabkan harga turun lebih dari separuh nilainya.

Grafik menunjukkan bahwa Bitcoin naik ke rekor tertinggi pada 10 November dan menutup sesi di bawah terendah 9 November, menempatkan pola bearish reversal pada grafik harian, dan harga runtuh setelah reversal.

3. Aset safe haven lainnya telah mengambil alih tren bullish

Jauh sebelum mata uang kripto ada, emas adalah aset safe haven utama. Tetapi ketika Bitcoin dan kripto lainnya meledak ke level tertinggi November 2021, banyak investor yang membuat asumsi bahwa telah muncul safe haven yang baru. Selama periode itu, logam mulia, instrumen safe haven klasik, mengembangkan pola wedge lower high dan higher low, sebuah perkembangan bearish.

Setelah membuat pergerakan lower high sejak Agustus 2020, logam mulia mulai membuat pergerakan higher low pada Maret 2021. Yaitu ketika emas mencapai rekor puncaknya pada $2.063 per ons. Selama Februari 2022, emas telah keluar dari pola itu, ke atas.

Selama lebih dari setahun, pivot point emas berada di $1.800 per ons sebelum menembus pola wedge-nya ke sisi atas. Emas diperdagangkan di atas level $1.970 per ons akhir minggu lalu, dan pagi ini melambung melewati $2.000. Bisa disimpulkan, pola baji telah berubah menjadi tren bullish.

Dengan demikian, secara teknis posisi emas kemungkinan akan menyebabkan pelaku pasar lebih menyukai logam mulia daripada mata uang kripto. Namun, mengingat betapa mudahnya memindahkan mata uang kripto sebagai modal untuk melarikan diri ketika terjadi tekanan ekonomi dan/atau politik, hal ini sangat membantu mata uang digital ini untuk meningkat.

 

Sumber

Baca juga: Biaya transaksi Bitcoin Naik Lebih dari 2.000% di 2020