Ripple baru saja menggandeng mantan pejabat pemerintah untuk menjadi bagian dari jajaran direksinya.Selain itu, Ripple juga telah menunjuk Kepala Keuangan atau CFO baru, yang memiliki reputasi sangat baik di dunia crypto.

Walau terdapat kabar yang memperkuat kedudukan Ripple, Securities and Exchange Commission (SEC) menyatakan belum menyerah.

Ripple Gandeng Mantan Pejabat Pemerintah

Mantan Pejabat Kementerian Keuangan Kabinet Presiden Barack Obama, Rosa “Rosie” Gumataotao Rios, telah resmi menjadi bagian dari jajaran direksi Ripple.

Selain itu, Ripple juga telah menunjuk Kristina Campbell, sebagai CFO perusahaan. Campbell sendiri merupakan seorang ahli di bidang keuangan yang memiliki reputasi sangat baik. CEO Ripple, Brad Garlinghouse, menyatakan dua pihak ini akan menjadi pemimpin yang kuat untuk perusahaan Ripple ke depannya.

Dengan pengalaman Rosie di bidang keuangan, sektor publik, serta privat, keberadaannya akan membawa nilai besar untuk Ripple. Bersama keahlian Campbell di bidang keuangan yang telah mengangkat banyak perusahaan keuangan, Ripple menjadi perusahaan yang sangat berpotensial.

Brad Garlinghouse menyatakan bahwa ia sangat bersyukur untuk memiliki dua pihak tersebut. Ia berharap kedua pihak tersebut membantu kejelasan legalitasnya sebagai perusahaan di Amerika dan dunia.

Rosie sendiri memiliki banyak pencapaian di bidang keuangan dan bidang pemerintahan. Ia memiliki penghargaan Hamilton, penghargaan tertinggi oleh Kementerian Keuangan Amerika.

Rosie sendiri telah mendedikasikan keseluruhan hidupnya untuk memperkuat pertumbuhan bidang keuangan di Amerika.

Ia merasa Ripple menjadi contoh perusahaan keuangan terbaik yang dapat mendorong pertumbuhan sektor keuangan. Ia menyatakan,

“Blockchain dan crypto akan menjadi pendorong terbesar untuk masa depan keuangan tidak hanya di Amerika namun secara global. Ripple menjadi salah satu pendukung terbesar inovasi ini.”

Campbell juga menyatakan bahwa ia akan mendorong pertumbuhan Ripple untuk mendapatkan kondisi keuangan yang inklusif.

Tujuan akhirnya adalah untuk menjadikan Ripple sebagai perusahaan keuangan terbesar di dunia yang mendukung inovasi secara tinggi.

SEC Belum Menyerah

Walaupun terdapat kasus ini, SEC masih terlihat belum akan menyerah untuk menuntut Ripple akibat perbedaan pandangan legalitas perusahaan.

Saat ini SEC masih terlihat terus mencari cara untuk menuntut Ripple agar dinyatakan bersalah oleh hakim pengadilan.

Saat ini Ripple yang sebelumnya telah berhasil mulai mengalahkan SEC, terlihat mengalami halangan. SEC saat ini menolak memberikan dokumen legalitas Bitcoin dan Ethereum yang sebelumnya diminta Ripple untuk status legalitasnya.

Hal ini disebabkan SEC menyatakan mereka tidak memiliki dokumen tersebut yang membuat kesulitan Ripple membuktikan SEC salah. Namun Ripple dan hakim terus menggali dan mencari cara untuk transparansi terjadi lebih dalam dengan terus meminta dokumen tersebut.

SEC menyetujui penggalian tersebut namun mengancam Ripple bahwa dengan penggalian dokumen lebih dalam, Ripple memiliki potensi bahaya.

Bahaya tersebut adalah bahaya terpublikasinya dokumen yang dapat mengancam legalitas Ripple lebih dalam lagi. Namun Ripple masih terlihat percaya diri akibat menganggap hal tersebut hanya sebuah gertakan karena Rippe sudah bersifat transparan selama sidang.

Mantan pengacara SEC, Linda Jeng, sebelumnya menyatakan bahwa SEC tidak mungkin menyerah akibat dua potensi alasan.

Alasan pertama adalah harga diri SEC sebagai sebuah Lembaga Pemerintah, alasan kedua adalah menurutnya untuk menyerah sudah terlambat akibat sudah terlalu “dalam”.

Oleh karena itu nampaknya sidang SEC dengan Ripple masih akan terus berlanjut, namun saat ini kondisi keunggulan masih berada di tangan Ripple.