Suku Bunga Acuan Indonesia telah mengalami stagnasi beberapa bulan terakhir pada 4% akibat adanya pandemi Covid-19 ini. Namun, stagnasi ini bukan hal yang buruk akibat menjadi pertanda bahwa perekonomian Indonesia sudah mulai memulih.

Suku Bunga Acuan Indonesia Stagnan

Pemulihan perekonomian dari Covid-19 dapat dilihat dari sisi suku bunga acuan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia. Sejak Bulan Juli 2020 hingga Bulan Oktober 2020, suku bunga acuan masih tetap pada 4% yang menandakan bahwa Indonesia belum membutuhkan dorongan kebijakan ekspansif moneter tambahan.

Hal ini menandakan bahwa perputaran uang mulai meningkat yang juga menandakan bahwa perekonomian sudah mulai bergerak kembali walau belum signifikan. Tetapi, jika ada perubahan dalam suku bunga acuan yang meningkat, kemungkinan dapat dijadikan pertanda bahwa Indonesia sudah menuju pemulihan yang kuat.

Tetapi, nampaknya peningkatan suku bunga tersebut belum akan terlihat dalam waktu dekat mengingat masih banyaknya halangan dari Covid-19. Selain itu, mayoritas pasar juga masih memprediksi bahwa suku bunga acuan masih akan tetap pada 4% untuk November 2020.

Dampak Terhadap Rupiah

Namun, kabar baiknya adalah potensi yang dapat mengangkat nilai Rupiah kembali dengan tetapnya suku bunga acuan. Selain itu, dengan tetapnya suku bunga acuan, ada kemungkinan apresiasi dari Rupiah masih akan stabil sehingga juga dapat berdampak pada neraca dagang Indonesia.

Dampak tersebut dapat dirasakan oleh nilai Rupiah yang tidak terangkat secara berlebihan seperti pada beberapa bulan sebelumnya. Sehingga komoditas di Indonesia masih terlihat terjangkau dalam perdagangan internasional yang membuat neraca dagang dapat kembali surplus seperti Oktober lalu.

Baca juga: Yen Diprediksi Menguat Terhadap Pound Sterling Dalam Waktu Dekat

Selain itu, ada kemungkinan juga dengan penetapan suku bunga acuan yang tetap, nilai Rupiah akan terus menguat terhadap Dolar Amerika. Hal ini disebabkan oleh tidak meningkatnya kebijakan ekspansif moneter Indonesia bersama dengan Amerika yang nampaknya akan terus meningkatkan kebijakan moneternya.

Selain itu, dengan akan adanya dana stimulus baru dari sisi fiskal, kemungkinan depresiasi Dolar Amerika akan terus terjadi. Hal ini disebabkan presiden baru, Joe Biden, yang mementingkan kesejahteraan rakyat dibandingkan apresiasi Dolar Amerika saat ini.

Sehingga, kemungkinan dengan sentimen yang kuat dari Indonesia yang juga mulai mendapat banyak dana dari investor asing, terutama Amerika, kemungkinan Rupiah akan terus menguat. Oleh karena itu, stagnasi pada 4% tidak akan menjadi hal yang buruk.

Tags: